Melihat dua kelompok laki-laki saling menendang mungkin membuat orang yang baru pertama kali datang ke Liya bertanya-tanya: apakah mereka sedang berkelahi? Jawabannya justru sebaliknya.
Setelah adu ketangkasan selesai, para peserta berjabat tangan dan tidak diperbolehkan membawa dendam keluar dari arena.
Tradisi tersebut dikenal dengan nama Posepaa atau Posepa’a, salah satu warisan budaya masyarakat Liya di Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi.
Jadesta Kementerian Pariwisata menjelaskannya sebagai atraksi saling tendang antara dua kelompok masyarakat yang berasal dari sisi berbeda lapangan. Pada masa lalu, permainan ini dikaitkan dengan proses pemilihan calon prajurit Benteng Liya.
Namun, mengenal Posepaa dalam budaya Liya tidak cukup hanya dengan melihat siapa yang paling kuat menendang. Di balik permainan yang terlihat keras tersimpan nilai keberanian, pengendalian diri, sportivitas, persaudaraan, hingga rekonsiliasi.
Penelitian budaya bahkan menempatkan Posepa’a sebagai salah satu identitas masyarakat Liya yang telah diwariskan selama beberapa generasi.
Apa Itu Posepaa dalam Budaya Liya?
Secara sederhana, Posepaa merupakan permainan tradisional berupa adu ketangkasan dengan cara saling menendang.
Penelitian Abdul Asis yang diterbitkan dalam Walasuji: Jurnal Sejarah dan Budaya menjelaskan bahwa permainan dilakukan dengan tendangan, sementara penggunaan tangan untuk menyerang tidak diperbolehkan.
Posepaa bukan permainan bebas tanpa aturan. Peserta berhadapan dalam kelompok dan harus mengikuti tata cara yang telah berkembang dalam tradisi masyarakat.
Jadesta mencatat dua kelompok utama yang terlibat, yakni Yro Wawo, sebutan bagi masyarakat dari wilayah timur lapangan Posepaa, dan Yro Woru dari wilayah barat.
Setelah permainan berakhir, para pemain saling berjabat tangan sebagai penanda bahwa persaingan di arena tidak boleh berubah menjadi permusuhan pribadi.
Bagian terakhir inilah yang membuat Posepaa menarik. Gerakannya keras, tetapi tujuan sosialnya justru mengarah pada kebersmaan.
Dari Mana Asal Tradisi Posepaa?
Asal-usul Posepaa memiliki hubungan erat dengan perjalanan masyarakat Liya dan kehidupan pertahanan wilayah pada masa lampau.
Jadesta menyebut bahwa pada zaman dahulu Posepaa berfungsi sebagai ajang seleksi calon prajurit Benteng Liya sebelum mereka diterjunkan ke medan perang.
Penjelasan dari keluarga Meantu’u Liya yang dihimpun Telisik pada 2024 juga menyebut permainan ini digunakan untuk menguji ketangkasan pemuda yang nantinya dapat diutus sebagai prajurit dalam lingkungan Kesultanan Buton.
Ada pula catatan akademis yang membawa riwayatnya lebih jauh. Penelitian Abdul Asis memperkirakan Posepa’a telah dikenal sejak sekitar pertengahan abad XIII dan menghubungkannya dengan pengaruh Kerajaan Melayu.
Karena informasi mengenai periode awal tersebut banyak bersandar pada tradisi dan rekonstruksi sejarah lokal, keterangan ini sebaiknya dipahami sebagai salah satu versi akademis mengenai asal-usul Posepaa, bukan tanggal kelahiran yang sepenuhnya pasti.
Bagaimanapun, fungsi awal sebagai latihan ketangkasan membantu menjelaskan mengapa tendangan, keberanian, dan daya tahan menjadi bagian penting dalam permainan.
Bagaimana Permainan Posepaa Dilakukan?
Sekilas Posepaa terlihat sederhana: dua kelompok masuk ke arena dan saling melakukan tendangan. Kenyataannya, unsur kerja sama justru sangat terasa.
Dokumentasi masyarakat Liya menunjukkan para pemuda dapat memasuki arena secara berkelompok sambil bergandengan tangan.
Mereka kemudian berhadapan dengan kelompok lain dan mencari kesempatan melakukan tendangan tanpa menjadikan permainan sebagai perkelahian bebas.
Ketangkasan menjadi penting karena peserta bukan hanya harus mampu menyerang. Mereka juga perlu membaca gerakan lawan, menghindari tendangan, menjaga keseimbangan, dan mengendalikan emosi.
Di sinilah Posepaa bisa dipahami sebagai ujian fisik sekaligus mental.
Boleh Menendang, tetapi Tidak Boleh Mendendam
Aturan sosial setelah pertandingan barangkali merupakan bagian yang paling mudah diingat.
Jadesta secara khusus mencatat bahwa setelah Posepaa selesai, peserta berjabat tangan sebagai tanda tidak ada dendam yang tersisa.
Keterangan warga Liya yang dihimpun Telisik bahkan menjelaskan permainan tersebut sebagai ruang untuk melepaskan persoalan, kemudian kembali saling memaafkan setelah pertandingan berakhir.
Jadi, kemenangan bukan inti satu-satunya.
Kemampuan mengendalikan diri setelah menerima tendangan sama pentingnya dengan keberanian ketika berada di dalam arena.
Posepaa dan Tradisi Hari Besar Masyarakat Liya
Posepaa juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan keagamaan masyarakat.
Penelitian yang diterbitkan pada 2016 mendokumentasikan Posepa’a sebagai permainan yang dilakukan pada sore hari selama Ramadan menjelang berbuka puasa di lingkungan Keraton Liya.
Dokumentasi yang lebih baru menunjukkan pertunjukan juga berlangsung setelah Salat Id pada hari raya. Telisik melaporkan pelaksanaan setelah Idulfitri pada 2024, sedangkan Metro TV pernah mendokumentasikannya setelah Iduladha pada 2022.
Perbedaan catatan tersebut menunjukkan bahwa waktu pelaksanaannya dapat berkembang atau menyesuaikan konteks tradisi dan perayaan masyarakat.
Salah satu lokasi yang erat dengan pelaksanaan Posepaa adalah kawasan Keraton Liya, termasuk area di sekitar Masjid Mubarok.
Hubungan antara permainan rakyat, ruang adat, dan momentum keagamaan membuat Posepaa memiliki posisi yang lebih kompleks daripada sekadar olahraga tradisonal.
Bagi masyarakat, arena juga menjadi tempat bertemu. Orang-orang datang menyaksikan permainan, peserta bertemu kembali, dan hubungan sosial diperkuat dalam suasana perayaan.
Nilai-Nilai yang Tersembunyi di Balik Tendangan
Kalau hanya melihat rekaman singkat, Posepaa mungkin tampak sebagai pertandingan fisik yang ekstrem. Kajian budaya justru menemukan nilai sosial yang cukup luas di dalamnya.
Penelitian Wawan Setiawan, I Ketut Suardika, dan La Ode Ali Basri mengidentifikasi nilai religius, kepatuhan, kesabaran, kepemimpinan, perjuangan, kebersamaan, sportivitas, dan estetika dalam tradisi Posepa’a.
Nilai tersebut dipandang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Liya.
Nilai kesabaran, misalnya, bisa terlihat dari tuntutan untuk tidak membalas secara emosional di luar aturan permainan.
Sportivitas terlihat ketika peserta mampu menerima hasil pertandingan lalu berjabat tangan. Sementara nilai perjuangan dan keberanian berkaitan dengan latar historis permainan sebagai sarana menguji kemampuan calon prajurit.
Ada pula nilai sosial yang sederhana tetapi penting: berkumpul.
Penelitian Abdul Asis menyimpulkan Posepa’a memiliki fungsi hiburan, menjalin silaturahmi, memperkuat identitas, dan menjadi bagian dari pariwisata budaya. Jadi, tendangan yang terlihat oleh penonton sebenarnya hanya bagian permukaan dari sebuah mekanisme sosial yang jauh lebih luas.
Mengapa Posepaa Bukan Sekadar Adu Kekuatan?
Bayangkan seseorang ditendang cukup keras ketika berada di arena. Secara naluriah, ia mungkin ingin membalas dengan emosi.
Posepaa justru menuntut peserta membatasi responsnya dalam aturan permainan. Setelah kegiatan berakhir, persaingan juga harus berakhir.
Dalam konteks ini, kekuatan tidak hanya berarti otot atau tendangan keras. Kemampuan menahan emosi dan tetap menghormati lawan menjadi bentuk kekuatan lainnya.
Itulah sebabnya tradisi ini menarik dibaca sebagai pendidikan karakter yang berkembang melalui permainan rakyat.
Nilai kesabaran, kepatuhan, kepemimpinan, perjuangan, serta sportivitas yang ditemukan dalam penelitian menunjukkan bahwa fungsi Posepaa telah melampaui kebutuhan hiburan.
Tradisi seperti ini sekaligus memperlihatkan bahwa masyarakat masa lalu memiliki cara sendiri untuk menanamkan aturan sosial kepada generasi muda.
Tidak selalu melalui ruang kelas atau teks tertulis, tetapi melalui pengalaman langsung dalam komunitas.
Posepaa sebagai Identitas Budaya Liya Togo
Saat ini Posepaa juga diperkenalkan sebagai salah satu atraksi budaya Desa Wisata Liya Togo.
Profil resmi Jadesta mencantumkannya bersama Honari Mosega, Honari Wowine, dan Hewale-walea sebagai atraksi budaya desa. Liya Togo sendiri masuk dalam 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021.
Kehadiran Posepaa dalam pariwisata membuka peluang agar lebih banyak orang mengenal kebudayaan Liya. Wisatawan yang awalnya datang ke Wakatobi karena laut dan terumbu karang akhirnya memiliki alasan untuk menjelajahi sisi sejarah Pulau Wangi-Wangi.
Namun, menjadikannya atraksi wisata juga membawa tanggung jawab. Posepaa sebaiknya tidak diperkenalkan hanya sebagai tontonan “orang saling menendang”.
Penjelasan mengenai sejarah calon prajurit, pembagian kelompok, aturan permainan, sportivitas, dan tradisi berjabat tangan perlu ikut disampaikan supaya pengunjung memahami maknanya.
Dengan begitu, pariwisata bisa membantu tradisi tetap dikenal tanpa menghilangkan cerita yang membuatnya istimewa.
Tantangan Menjaga Posepaa untuk Generasi Berikutnya
Seperti banyak permainan rakyat lainnya, Posepaa berhadapan dengan perubahan gaya hidup generasi muda.
Pelestarian tidak cukup dilakukan dengan menggelar pertunjukan sekali-sekali. Pengetahuan mengenai aturan, sejarah, istilah lokal, nilai sosial, serta konteks adat juga perlu diteruskan dari tetua kepada generasi berikutnya.
Kajian budaya tentang Posepa’a bahkan menekankan pentingnya mempertahankan tradisi ini karena nilai dan fungsinya telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Liya.
Di sisi lain, keselamatan pemain juga perlu tetap menjadi perhatian ketika tradisi diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas. Pelestarian tidak berarti mengabaikan kehati-hatian.
Yang paling penting adalah membiarkan masyarkat Liya tetap menjadi pemilik utama cerita dan cara tradisi tersebut dilestarkan.
Dengan begitu, Posepaa tidak berubah menjadi pertunjukan kosong, tetapi terus menjadi ruang tempat keberanian, persaudaraan, dan ingatan kolektif bertemu.
Mengenal Posepaa dalam budaya Liya berarti melihat lebih jauh daripada atraksi saling tendang.
Tradisi ini berkaitan dengan sejarah ketangkasan calon prajurit, kehidupan masyarakat Keraton Liya, perayaan keagamaan, hingga cara warga membangun sportivitas dan persaudaraan.
Hal yang membuat Posepaa menarik justru berada pada kontrasnya: permainan berlangsung keras, tetapi harus berakhir dengan saling berjabat tangan. Tidak ada dendam yang boleh dibawa pulang.
Jika berkunjung ke Liya Togo, cobalah melihat Posepaa bersama penjelasan dari warga atau pemandu lokal. Jangan hanya fokus pada tendangannya.
Dengarkan cerita tentang aturan, sejarah, dan nilai di baliknya. Dari sana kita bisa melihat bahwa salah satu warisan budaya Wakatobi ini sebenarnya berbicara banyak tentang keberanian sekaligus kemampuan menjaga persaudaraan.
FAQ
1. Apa itu Posepaa?
Posepaa atau Posepa’a adalah permainan tradisional masyarakat Liya di Wakatobi berupa atraksi saling menendang antara dua kelompok. Tradisi ini dahulu juga dikaitkan dengan seleksi calon prajurit Benteng Liya.
2. Siapa yang mengikuti permainan Posepaa?
Posepaa terutama dikenal sebagai permainan laki-laki dan pemuda masyarakat Liya. Dokumentasi tradisi menunjukkan para peserta membentuk kelompok untuk melakukan adu ketangkasan di arena.
3. Apa arti Yro Wawo dan Yro Woru?
Menurut Jadesta, Yro Wawo merupakan sebutan bagi kelompok masyarakat dari wilayah timur lapangan Posepaa, sedangkan Yro Woru berasal dari wilayah barat. Kedua kelompok inilah yang berhadapan dalam atraksi.
4. Kapan Posepaa dilaksanakan?
Dokumentasi berbeda mencatat pelaksanaan Posepaa selama Ramadan menjelang berbuka serta setelah Salat Id pada Idulfitri dan Iduladha. Karena waktu pertunjukan dapat mengikuti konteks kegiatan adat, wisatawan sebaiknya memeriksa agenda lokal sebelum datang.
5. Apa nilai utama yang terdapat dalam Posepaa?
Penelitian menemukan nilai religius, kesabaran, kepemimpinan, perjuangan, kebersamaan, kepatuhan, sportivitas, dan estetika. Tradisi ini juga berfungsi mempererat silaturahmi dan identitas masyarakat Liya.
