Wakatobi tidak hanya menarik bagi pencinta snorkeling dan diving. Di Pulau Wangi-Wangi, tepatnya di Desa Liya Togo, ada kawasan bersejarah yang membawa pengunjung melihat sisi religius dan perjalanan Islam di kepulauan ini.
Salah satu titik utamanya adalah Masjid Mubarok dan wisata religi Liya Togo yang berada di dalam kompleks Benteng Keraton Liya.
Indonesia Travel menyebut masjid ini sebagai peninggalan Kerajaan Buton yang berdiri di lapisan inti benteng dan mengaitkan pembangunannya dengan tahun 1546.
Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara juga menyebut masjid tua tersebut dibangun pada 1546, delapan tahun setelah pelantikan Sultan Buton pertama pada 1538.
Namun, pengalaman berkunjung ke sini tidak hanya soal melihat usia bangunan. Masjid masih terhubung dengan kehidupan masyarakat, sementara benteng, makam, baruga, dan tradisi Liya membentuk satu lanskap sejarah yang utuh.
Kalau ingin mengenal Wakatobi dari sudut yang lebih tenang dan reflektif, Liya Togo layak masuk itinerary.
Mengenal Masjid Mubarok di Liya Togo
Masjid Mubarok juga kerap disebut Masjid Keraton Liya atau Masjid Mubarak Liya. Lokasinya berada di Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, di dalam kawasan Benteng Keraton Liya.
Keberadaan masjid di pusat benteng menunjukkan bahwa Liya pada masa lalu bukan hanya memiliki fungsi pertahanan. Aktivitas pemerintahan, kehidupan masyarakat, dan agama berkembang di ruang yang saling berdekatan.
Indonesia Travel memasukkan Masjid Mubarok bersama Benteng Liya sebagai dua peninggalan sejarah utama Desa Wisata Liya Togo. Benteng tersebut disebut mengelilingi desa dengan kawasan sekitar 52 hektare dan beberapa lapisan pertahanan.
Bagi wisatawan, posisi masjid seperti ini membuat kunjungan terasa lebih menarik. Kita tidak sedang melihat sebuah bangunan religi yang berdiri terpisah, tetapi bagian dari bekas pusat kehidupan masyarakat Liya.
Dibangun pada Abad ke-16 dan Berkaitan dengan Kesultanan Buton
Tahun 1546 menjadi angka yang paling sering muncul dalam sumber pemerintah dan publikasi pariwisata ketika membahas pembangunan Masjid Mubarok.
Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara mencatat tahun tersebut sebagai masa pembangunan masjid tua di Benteng Keraton Liya.
Indonesia Travel juga menggunakan tahun yang sama. Sementara laporan lain menyebut terdapat versi sejarah lokal yang menempatkan awal pembangunan sedikit berbeda, sehingga tahun persisnya tetap sebaiknya dipahami berdasarkan sumber yang digunakan.
Yang cukup konsisten adalah hubungan masjid dengan perkembangan Islam pada masa lingkungan politik Kesultanan Buton.
Publikasi Medcom menyebut Masjid Mubarok sebagai masjid tua yang berada di tengah benteng batu karang dan menghubungkannya dengan proses perkembangan Islam di Pulau Wangi-Wangi.
Dengan usia yang sudah mendekati lima abad berdasarkan versi 1546, keberadaan masjid ini menjadi saksi penting perjalanan masyarakat Wakatobi.
La Djilabu dan Cerita Penyebaran Islam di Wangi-Wangi
Salah satu nama yang sering muncul dalam cerita mengenai Masjid Keraton Liya adalah La Djilabu.
Telisik, berdasarkan keterangan pengurus masjid, menyebut La Djilabu sebagai tokoh yang datang ke Pulau Wangi-Wangi untuk menyebarkan ajaran Islam dan dikaitkan dengan pembangunan masjid bersama masyarakat.
Cerita tersebut membuat Masjid Mubarok memiliki nilai lebih dari sekadar arsitektur tua.
Bangunan ini dapat dipahami sebagai bagian dari proses perubahan keagamaan masyarakat kepulauan. Islam kemudian berkembang bukan hanya melalui aktivitas ibadah, tetapi juga berinteraksi dengan sistem adat dan kehidupan sosial yang sudah ada.
Hubungan agama dan adat bahkan masih terlihat di Liya sekarang. Tradisi seperti Honari Mosega misalnya, dalam konteks lingkungan Keraton Liya memiliki rangkaian penghormatan yang berkaitan dengan masjid, leluhur, masyarakat, dan baruga.
Jadesta mencatat tarian itu masih menjadi salah satu atraksi budaya desa. Jadi sejarah Islam di Liya tidak berdiri sendirian. Ia tumbuh berdampingan dengan kebudayaan lokal.
Mengapa Masjid Mubarok Menarik untuk Wisata Religi?
Wisata religi tidak selalu harus berupa perjalanan menuju bangunan yang megah.
Masjid Mubarok justru menarik karena suasananya sederhana dan menyatu dengan lingkungan sejarah. Pengunjung dapat beribadah sekaligus memahami perjalanan Islam melalui benteng, makam, ruang musyawarah adat, dan cerita masyarakat.
Publikasi pariwisata Sulawesi Tenggara menyebut Masjid Mubarok sebagai salah satu masjid bersejarah penting di Wakatobi dan menghubungkannya dengan posisi masjid kedua setelah masjid tua di Wolio dalam sejarah Kesultanan Buton.
Di depan atau sekitar kawasan masjid juga terdapat peninggalan lain seperti meriam tua. Dokumentasi ANTARA Foto yang dimuat detik pada 2024 menunjukkan Masjid Mubarak Liya masih dikunjungi wisatawan dan berada di tengah kompleks Benteng Keraton Liya.
Inilah yang membuat perjalanan ke sini terasa komplet.
Wisatawan bisa beribadah, belajar sejarah, mengenal arsitektur, lalu melanjutkan perjalanan menyusuri situs budaya dalam satu kawasan.
Arsitektur Masjid yang Telah Melewati Perjalanan Panjang
Kalau melihat Masjid Mubarok sekarang, jangan langsung menganggap seluruh bagian bangunan masih identik dengan bentuk abad ke-16.
Bangunan religi yang masih digunakan selama berabad-abad biasanya mengalami perbaikan, pemeliharaan, maupun perubahan material.
Indonesia Travel sendiri mencatat masjid berasal dari abad ke-16 tetapi penampilannya juga menunjukkan unsur arsitektur dari periode yang lebih muda.
Karena itu, nilai utamanya bukan sekadar mencari bagian mana yang “paling asli”.
Yang jauh lebih menarik adalah memahami kesinambungan fungsi masjid. Bangunan tersebut tetap menjadi bagian dari ruang keagamaan masyarakat meskipun zaman dan bentuk fisiknya terus mengalami perubahan.
Lokasinya yang berada di dalam benteng batu membuat pengalaman visualnya juga khas. Masjid, pepohonan, dinding benteng, serta lingkungan permukiman menciptakan suasana yang jauh dari gambaran masjid perkotaan modern.
Bagi pecinta fotografi arsitetur, kawasan ini memang menarik. Namun karena masjid adalah tempat ibadah aktif, aktivitas memotret tetap perlu menghormati jamaah.
Makam dan Cerita Talo-Talo di Sekitar Kawasan Religi
Wisata religi Liya Togo juga berhubungan dengan keberadaan beberapa makam di kawasan Benteng Liya.
Salah satu cerita paling terkenal berkaitan dengan Talo-Talo, tokoh yang hidup dalam legenda masyarakat Liya.
Medcom mencatat adanya makam di kawasan sekitar Masjid Mubarok yang menurut cerita lokal dipercaya berkaitan dengan Talo-Talo, sosok yang digambarkan memiliki jasa terhadap Kesultanan Buton.
Penting untuk membedakan bagian ini sebagai tradisi lisan atau legenda, bukan fakta sejarah yang seluruh detailnya sudah terverifikasi melalui dokumen tertulis.
Justru dari sinilah wisata sejarah dan religi menjadi menarik.
Pengunjung tidak hanya berhadapan dengan arsip resmi, tetapi juga dengan ingatan masyarakat. Cerita turun-temurun memberi konteks mengenai bagaimana warga memahami para tokoh terdahulu dan hubungan mereka dengan wilayah Liya.
Jika datang bersama pemandu lokal, tanyakan mengenai makam-makam tersebut dan dengarkan versinya langsung dari masyarkat.
Pendekatan seperti ini jauh lebih menarik daripada sekadar membaca papan informasi.
Baruga Menunjukkan Hubungan Agama dan Pemerintahan Adat
Tidak jauh dari masjid terdapat baruga, bangunan yang digunakan sebagai tempat pertemuan dan musyawarah.
Medcom mencatat keberadaan baruga di dekat Masjid Mubarok sebagai salah satu unsur penting kompleks Keraton Liya.
Posisinya menarik karena membantu kita memahami tata ruang masyarakat dahulu.
Masjid menjadi ruang agama. Baruga menjadi tempat membicarakan kepentingan bersama. Benteng memberikan perlindungan. Sementara permukiman menjadi ruang kehidupan sehari-hari.
Semua fungsi tersebut berada dalam satu lanskap.
Karena itu, wisata religi di Liya Togo sebenarnya dapat berkembang menjadi perjalanan interpretasi budaya. Setelah masuk masjid, wisatawan tidak perlu langsung pulang.
Berjalan beberapa ratus meter saja sudah dapat membuka cerita mengenai pemerintahan adat, pertahanan, leluhur, dan kehidupan sosial.
Inilah kelebihan kawasan bersejarah dibanding berkunjung pada satu bangunan secara terpisah.
Masjid Mubarok Masih Menjadi Bagian dari Desa yang Hidup
Liya Togo sekarang berkembang sebagai desa wisata budaya.
Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat Desa Wisata Liya Togo sebagai bagian dari 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021. Desa ini memiliki atraksi budaya, homestay, kuliner, produk lokal, dan pemandu wisata.
Kondisi tersebut memberi keuntungan bagi wisatawan yang ingin melakukan perjalanan religi lebih lengkap.
Setelah mengunjungi masjid dan benteng, pengunjung dapat melihat Tenun Homoru, mencicipi makanan lokal, atau bermalam di homestay. Dengan demikian, pengeluaran wisata juga dapat memberikan dampak ekonomi lebih langsung kepada warga.
Namun peningkatan kunjungan membawa tanggung jawab.
Masjid bersejarah bukan sekadar latar foto. Kebersihan, ketenangan, fungsi ibadah, dan kelestarian bangunan harus tetap lebih penting daripada kebutuhan konten wisata.
Wisata religi yang baik bukan hanya membuat pengunjung pulang membawa gambar. Idealnya, mereka juga membawa pemahaman.
Etika Berkunjung ke Masjid Mubarok
Karena Masjid Mubarok masih berfungsi sebagai tempat ibadah, ada beberapa sikap sederhana yang sebaiknya diperhatikan.
Gunakan pakaian sopan dan hindari membuat suara keras ketika jamaah sedang beribadah. Jika ingin masuk ke bagian tertentu, bertanya kepada pengurus atau pemandu lokal adalah pilihan terbaik.
Hindari pula menyentuh, memanjat, atau memindahkan bagian bangunan maupun peninggalan sejarah di sekitar kompleks.
Untuk makam, perlakukan area tersebut dengan hormat. Jangan berdiri atau duduk sembarangan di bagian makam hanya untuk mendapatkan sudut foto.
Jika ingin mendapatkan cerita lebih lengkap, Jadesta saat ini mencatat Liya Togo memiliki pemandu yang telah mengikuti pelatihan kepemanduan. Kehadiran pemandu dapat membantu pengunjung membedakan antara sejarah terdokumentasi dan cerita lisan.
Dengan begitu, perjalanan bukan sekadar “datang dan melihat”, tetapi juga belajar.
Menggabungkan Wisata Religi dan Wisata Budaya Liya Togo
Masjid Mubarok sangat mudah dikombinasikan dengan berbagai pengalaman lain di Liya Togo.
Benteng Keraton Liya tentu menjadi tujuan utama. Setelah itu, pengunjung bisa mengenal tradisi Honari Mosega, Posepaa, kerajinan Homoru, hingga kuliner desa apabila tersedia pada saat kunjungan.
Jadesta mencatat seluruh unsur tersebut sebagai bagian dari produk dan atraksi Desa Wisata Liya Togo. Cara seperti ini membuat wisata religi terasa lebih kontekstual.
Masjid tidak dipandang sebagai objek tunggal, tetapi sebagai bagian dari sejarah sebuah masyarakat. Bahkan makanan, pakaian, seni, dan cara warga menyambut tamu ikut membantu menjelaskan identitas Liya.
Jika mempunyai waktu lebih panjang, menginap satu malam juga bisa menjadi pilihan.
Pagi hari biasanya memberi suasana yang lebih tenang untuk menikmati desa sebelum aktifitas wisata mulai ramai. Dengan ritme perjalanan yang santai, Liya Togo terasa lebih seperti kampung yang sedang kita kenal daripada destinasi yang sekadar dicentang dari daftar.
Sumber pemerintah dan pariwisata banyak mengaitkan pembangunan masjid dengan tahun 1546 serta perkembangan Islam pada masa Kesultanan Buton.
Nilai terbesarnya bukan hanya pada usia bangunan, tetapi pada kenyataan bahwa masjid masih berada dalam lingkungan budaya yang hidup.
Jika berkunjung ke Wangi-Wangi, sisihkan waktu untuk menjelajahi Liya Togo. Datanglah bersama pemandu lokal, hormati ruang ibadah dan makam, lalu lanjutkan perjalanan dengan mengenal benteng, kuliner, serta tradisi desa.
Dengan cara itu, wisata religi tidak hanya menjadi perjalanan melihat peninggalan lama, tetapi kesempatan memahami bagaimana sejarah Islam masih hadir dalam kehidupan masyarakat hari ini.
FAQ
1. Di mana lokasi Masjid Mubarok?
Masjid Mubarok berada di dalam kompleks Benteng Keraton Liya, Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
2. Kapan Masjid Mubarok dibangun?
Sumber Indonesia Travel dan Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara menyebut tahun 1546 sebagai tahun pembangunan Masjid Mubarok.
3. Siapa yang dikaitkan dengan pembangunan Masjid Mubarok?
Cerita lokal yang dihimpun Telisik mengaitkan pembangunan dan penyebaran Islam di kawasan tersebut dengan La Djilabu bersama masyarakat Liya.
4. Apakah Masjid Mubarok masih digunakan untuk ibadah?
Masjid Mubarok masih berada di tengah kehidupan masyarakat Liya dan dikenal sebagai masjid yang aktif sekaligus destinasi sejarah dan religi. Dokumentasi 2024 juga menunjukkan masjid tetap dikunjungi masyarakat serta wisatawan.
5. Apa saja yang bisa dikunjungi di sekitar Masjid Mubarok?
Pengunjung dapat menjelajahi Benteng Keraton Liya, kawasan makam, baruga, peninggalan pertahanan, serta berbagai atraksi budaya dan produk Desa Wisata Liya Togo.
