Liya Togo bukan sekadar desa dengan benteng batu tua di Pulau Wangi-Wangi.
Di balik Benteng Keraton Liya, masjid tua, baruga, dan rumah-rumah masyarakat, masih hidup berbagai tradisi yang menghubungkan generasi sekarang dengan kehidupan leluhur mereka.
Tradisi dan upacara adat masyarakat Liya Togo hadir dalam berbagai bentuk.
Ada Posepaa yang terlihat seperti adu tendang, Honari Mosega yang membawa semangat para prajurit, Hewale-walea untuk menyambut anak pertama, hingga Mangani’a sebagai ruang bersyukur dan mempererat silaturahmi.
Profil resmi Jadesta juga menempatkan Honari Mosega, Posepaa, Honari Wowine, dan Hewale-walea sebagai atraksi budaya penting Desa Wisata Liya Togo.
Menariknya, sebagian tradisi tidak dibuat khusus sebagai tontonan wisata. Masyarakat tetap menempatkan ritual tertentu dalam konteks adatnya.
Pemandu lokal bahkan menjelaskan bahwa tradisi yang dianggap sakral tidak sengaja dipentaskan hanya untuk wisatawan jika memang sedang tidak dilaksanakan oleh masyarakat.
Di sinilah Liya Togo terasa berbeda: budaya tidak sekadar dipamerkan, tetapi masih menjadi bagian dari kehidupan.
Liya Togo, Desa yang Hidup Bersama Adat
Desa Liya Togo berada di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi. Kawasan ini merupakan bagian dari lingkungan adat Kadie Liya dan dikenal memiliki Benteng Keraton Liya yang masih berhubungan erat dengan kehidupan masyarakat.
Adat di Liya tidak hanya terlihat melalui tarian atau upacara besar. Semangat gotong royong masih disebut sebagai bagian penting dalam kegiatan masyarakat, termasuk pembangunan fasilitas umum serta penyelenggaraan acara adat.
Baruga di kawasan Liya juga menjadi simbol penting. Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara menjelaskannya sebagai tempat musyawarah adat, memperlihatkan bagaimana tradisi masyarakat tidak hanya berhubungan dengan ritual, tetapi juga cara mengambil keputusan bersama.
Karena itu, memahami budaya Liya sebaiknya tidak berhenti pada pertunjukan. Ada sistem sosial, ruang adat, hubungan keluarga, serta nilai kebersmaan yang menopangnya.
1. Posepaa, Adu Tendang yang Berakhir dengan Saling Memaafkan
Salah satu tradisi Liya Togo yang paling mudah menarik perhatian adalah Posepaa atau Posepa’a.
Permainan ini mempertemukan dua kelompok dalam adu ketangkasan menggunakan tendangan.
Tradisi tersebut dikaitkan dengan masa ketika pemuda Liya diuji kemampuannya sebelum dipilih menjadi prajurit yang berhubungan dengan sistem pertahanan pada zaman Kesultanan Buton.
Yang menarik justru bukan tendangannya.
Setelah permainan selesai, peserta diharapkan saling berjabat tangan, memaafkan, dan tidak membawa persoalan arena menjadi dendam pribadi.
Dokumentasi pelaksanaan di Liya Togo pada 2024 menunjukkan Posepaa diselenggarakan setelah Salat Idulfitri, sementara dokumentasi 2022 juga mencatat pelaksanaannya pada Iduladha.
Tradisi ini memperlihatkan kombinasi yang unik antara keberanian dan pengendalian diri. Seseorang boleh menunjukkan kekuatan di arena, tetapi setelah kegiatan selesai hubungan sosial harus kembali normal.
Dalam bahasa sederhana: boleh bertanding keras, tetapi persaudaraan tetap nomor satu.
2. Honari Mosega, Ingatan tentang Keberanian Prajurit Liya
Kalau Posepaa menguji ketangkasan, Honari Mosega membawa kita lebih dekat pada ingatan mengenai para prajurit Liya.
Jadesta menjelaskan Honari Mosega sebagai tarian perang tradisional masyarakat Liya yang dahulu dimainkan sebelum dan sesudah peperangan.
Sebelum berangkat, tarian menjadi penyemangat bagi prajurit. Setelah kemenangan, gerakannya menjadi ungkapan kegembiraan.
Karakter pertunjukannya tegas. Penari laki-laki membawa perlengkapan yang menggambarkan dunia keprajuritan dan diiringi tamburu. Dalam lingkungan Keraton Liya, rangkaian penghormatan juga diarahkan pada masjid, makam leluhur, masyarakat, serta baruga.
Dalam perkembangan berikutnya, Honari Mosega digunakan untuk menyambut tamu penting.
Jadesta menyebutnya pernah ditampilkan untuk penyambutan tamu agung, sultan, maupun perangkat pemerintahan pada masa lalu, sedangkan dalam pariwisata Liya Togo tarian ini tetap diperkenalkan sebagai atraksi budaya.
Jadi, tarian perang tersebut kini juga berfungsi sebagai bahasa penghormatan.
3. Hewale-Walea, Menyambut Anak Pertama ke Dunia Sosial
Tidak semua upacara adat Liya berhubungan dengan keberanian atau peperangan.
Ada tradisi yang jauh lebih dekat dengan kehidupan keluarga, yaitu Hewale-walea.
Jadesta menjelaskan Hewale-walea sebagai acara adat untuk menyambut kelahiran anak pertama dalam sebuah keluarga baru. Kehadiran anak pertama dipandang sebagai penanda semakin lengkapnya keluarga tersebut.
Upacara ini juga berhubungan dengan momen ketika seorang anak untuk pertama kalinya dibawa keluar rumah dan diperkenalkan kepada dunia luar.
Maknanya terasa sederhana, tetapi sebenarnya dalam.
Seorang bayi tidak hanya dipandang sebagai anggota keluarga inti. Ia mulai diperkenalkan pada lingkungan sosial tempat dirinya kelak tumbuh. Karena itu, Hewale-walea dapat dibaca sebagai simbol penerimaan anggota baru ke dalam komunitas.
Liputan tentang budaya Liya Togo juga memasukkan tradisi ini sebagai salah satu kekayaan budaya desa yang masih diperkenalkan kepada masyarakat luas.
4. Mangani’a, Bersyukur dan Mempererat Silaturahmi
Tradisi berikutnya adalah Mangani’a, pesta adat yang berkaitan erat dengan rasa syukur masyarakat.
Dalam dokumentasi Desa Wisata Liya Togo, Mangani’a disebut sebagai bagian dari identitas budaya desa. Telisik menggambarkannya sebagai pesta adat untuk mensyukuri sebuah keberhasilan.
Keterangan mengenai Festival Lalo’a juga menjelaskan bahwa Mangani’a digunakan sebagai ruang bersilaturahmi, memanjatkan doa untuk keselamatan desa, serta menyampaikan rasa syukur atas hasil pertanian dan laut yang melimpah.
Dalam konteks tersebut, makanan dan pertemuan warga mempunyai posisi penting.
Masyarakat berkumpul bukan sekadar untuk makan bersama, tetapi memperkuat hubungan sosial. Syukur atas hasil kebun dan laut diterjemahkan ke dalam perjumpaan antarkeluarga dan anggota kampung.
Tradisi seperti ini memperlihatkan bahwa konsep “hasil panen” bagi masyarkat Liya tidak semata-mata soal ekonomi. Ada tanggung jawab sosial dan rasa syukur yang menyertainya.
5. Honari Wowine, Penyambutan Hangat untuk Tamu dan Perantau
Kalau Honari Mosega terasa gagah dan penuh energi, Honari Wowine menghadirkan suasana yang berbeda.
Jadesta mencatat tarian ini dimainkan oleh sekitar empat sampai delapan remaja putri. Fungsinya adalah sebagai tarian selamat datang kepada keluarga yang kembali dari perantauan maupun tamu yang mengunjungi Benteng Liya.
Hal ini menunjukkan bagaimana konsep penyambutan memiliki tempat khusus dalam budaya Liya.
Tamu tidak hanya diterima secara verbal. Kehadirannya dapat dirayakan melalui gerak, busana, dan pertunjukan.
Lebih menarik lagi ketika konteksnya adalah orang yang kembali dari rantau. Tarian tersebut seakan menjadi cara komunitas mengatakan bahwa seseorang yang pernah pergi tetap memiliki tempat ketika kembali ke kampung.
Dalam desa yang kini berkembang menjadi destinasi wisata, Honari Wowine juga memberikan pengalaman budaya kepada pengunjung tanpa harus kehilangan akar fungsi tradisonalnya.
6. Lalo’a, Tradisi Bahari yang Mengikuti Perjalanan Ikan Baronang
Budaya Liya tidak hanya hidup di dalam benteng. Laut juga memiliki tradisinya sendiri.
Salah satunya adalah Lalo’a, tradisi masyarakat adat Kadie Liya yang berkaitan dengan migrasi massal ikan baronang atau borona menuju perairan pesisir. Tradisi ini mencakup wilayah Kadie Liya, termasuk Liya Togo dan desa-desa Liya lainnya.
Fenomena tersebut biasanya dikaitkan dengan periode September hingga November. Nelayan menggunakan pengetahuan tentang waktu datangnya ikan dan proses bertelur untuk menentukan cara penangkapan.
Salah satu hal paling menarik adalah adanya pilihan menunggu sampai ikan melepaskan telurnya sebelum ditangkap.
Dalam konteks Festival Lalo’a, pesan konservasi bahkan menjadi bagian penting: masyarakat ingin generasi muda memahami cara menjaga ikan baronang, lingkungan pesisir, dan penggunaan alat tangkap yang lebih ramah terhadap ekosistem.
Lalo’a menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya berbicara tentang manusia dengan manusia. Ia juga mengatur hubungan manusia dengan alam.
Adat Liya Tidak Selalu Bisa Dipentaskan Sesuka Hati
Ketika sebuah desa menjadi destinasi wisata, muncul pertanyaan penting: apakah semua tradisi boleh dijadikan pertunjukan?
Di Liya Togo, jawabannya tidak selalu.
Pemandu desa yang diwawancarai dalam liputan tentang wisata budaya Liya menjelaskan bahwa jika suatu tradisi sedang dilaksanakan oleh masyarakat, wisatawan dapat melihatnya dan memperoleh penjelasan.
Namun, kegiatan yang sakral tidak sengaja diadakan hanya demi kebutuhan tontonan apabila memang sedang tidak berlangsung.
Sikap seperti ini penting untuk menjaga arti sebuah upacara.
Pariwisata memang dapat membantu budaya semakin dikenal dan menghasilkan pendapatan bagi warga. Tetapi ritual keluarga, acara adat, atau kegiatan keagamaan mempunyai fungsi yang lebih besar dibanding menjadi latar foto.
Wisatawan pun memiliki tanggung jawab. Mengikuti arahan pemandu lokal, meminta izin sebelum memotret, memakai pakaian yang sesuai ketika berada di kawasan sakral, dan tidak mengganggu prosesi merupakan bentuk penghormatan sederhana.
Dengan begitu, pelestarianya tidak berhenti pada dokumentasi, tetapi juga menjaga martabat tradisi itu sendiri.
Tradisi sebagai Identitas Desa Wisata Liya Togo
Kekuatan Liya Togo sebagai destinasi sebenarnya berada pada hubungan antara situs fisik dan budaya hidup.
Benteng Keraton Liya memberikan ruang sejarah, sementara Posepaa, Honari Mosega, Hewale-walea, Honari Wowine, Mangani’a, dan tradisi bahari memberi cerita tentang masyarakat yang menempati ruang tersebut.
Profil Jadesta menempatkan Liya Togo sebagai desa yang masih menjunjung nilai budaya lokal dan mencatat empat atraksi budaya utama-Honari Mosega, Posepaa, Honari Wowine, dan Hewale-walea. Desa ini juga pernah masuk 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021.
Tantangan berikutnya adalah regenerasi.
Tradisi akan tetap hidup jika anak muda tidak hanya belajar gerakan tarian, tetapi juga memahami cerita, aturan, istilah lokal, dan alasan sebuah ritual dijalankan.
Budaya pada akhirnya bukan tentang mengulang masa lalu persis seperti dahulu. Yang jauh lebih penting adalah memastikan nilai di dalamnya masih dipahami dan mempunyai tempat dalam kehidupan sekarang.
Tradisi dan upacara adat masyarakat Liya Togo memperlihatkan betapa luasnya makna budaya dalam kehidupan sebuah kampung.
Posepaa mengajarkan keberanian sekaligus memaafkan, Honari Mosega membawa ingatan tentang prajurit, Hewale-walea menyambut anggota baru keluarga, Mangani’a menjadi ruang syukur, sedangkan Lalo’a menunjukkan hubungan masyarakat dengan laut.
Warisan tersebut tetap menarik justru karena tidak semuanya berubah menjadi tontonan wisata.
Jika berkunjung ke Liya Togo, jangan hanya datang untuk melihat benteng. Cari pemandu lokal, dengarkan cerita masyarakat, dan hormati aturan ketika ada prosesi adat.
Dengan cara itulah perjalanan ke Liya Togo bisa menjadi kesempatan memahami Wakatobi dari sisi yang jauh lebih dalam: melalui orang-orang yang masih menjaga tradisinya.
FAQ
1. Apa tradisi paling terkenal di Liya Togo?
Beberapa yang paling dikenal adalah Posepaa, Honari Mosega, Honari Wowine, Hewale-walea, dan Mangani’a. Jadesta mencantumkan empat tradisi pertama sebagai atraksi budaya Desa Wisata Liya Togo.
2. Apa itu Hewale-walea?
Hewale-walea merupakan upacara adat untuk menyambut anak pertama dalam sebuah keluarga baru. Tradisi ini juga berkaitan dengan momen pertama anak dibawa keluar rumah dan diperkenalkan pada lingkungan.
3. Apa tujuan tradisi Posepaa?
Selain sebagai permainan ketangkasan, Posepaa dikaitkan dengan sejarah pengujian pemuda calon prajurit. Setelah permainan, peserta saling memaafkan sehingga persaingan tidak berubah menjadi dendam.
4. Apa itu Mangani’a?
Mangani’a merupakan tradisi berkumpul dan bersyukur yang berkaitan dengan silaturahmi, doa keselamatan, serta ungkapan syukur atas keberhasilan maupun hasil pertanian dan laut.
5. Apakah wisatawan bisa menyaksikan upacara adat Liya Togo?
Bisa jika tradisi tersebut memang sedang berlangsung atau merupakan atraksi yang dapat dipentaskan. Namun, beberapa kegiatan dianggap sakral dan tidak sengaja diadakan semata-mata untuk memenuhi permintaan wisatawan.
