Liya Togo sering diperkenalkan melalui Benteng Liya, tradisi Posepaa, dan Honari Mosega. Padahal, kalau melihat kehidupan masyarakat sehari-hari, desa di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan ini juga punya cerita menarik tentang kebun, laut, dan berbagai hasil produksi lokal.
Komoditas unggulan Desa Liya Togo tumbuh dari kondisi wilayah yang cukup unik.
Tanahnya berbatu dan tidak selalu ideal untuk pertanian intensif, sementara lokasinya yang dekat dengan laut membuat masyarakat sejak lama menggabungkan aktivitas berkebun dengan mencari hasil laut.
Kajian tentang penghidupan masyarakat Liya Togo mencatat bahwa hasil kebun dan laut masih menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Rumput laut, bawang merah, ubi kayu, jagung, dan ikan menjadi beberapa produk yang paling menarik untuk dikenal. Penelitian terbaru juga menunjukkan berkembangnya pengolahan singkong, kelor, minuman herbal, dan produk lokal lain sebagai bagian dari agrowisata desa.
Dalam artikel ini, istilah “komoditas unggulan” digunakan secara praktis untuk menggambarkan hasil lokal yang menonjol dalam sumber tentang Liya Togo, bukan sebagai daftar komoditas unggulan resmi pemerintah.
Ekonomi Liya Togo Bertumpu pada Laut dan Kebun
Karakter ekonomi Liya Togo tidak bisa dipisahkan dari bentang alam Pulau Wangi-Wangi. Sebagian masyarakat bekerja sebagai nelayan harian, sementara aktivitas berkebun menjadi sumber penghidupan tambahan yang penting.
Kondisi tanah Liya yang berbatu membuat masyarakat harus menyesuaikan jenis tanaman.
Kajian Sajogyo Institute mencatat tanaman seperti ubi, bawang, jagung, pisang, dan tanaman pekarangan dapat ditemukan di kawasan ini. Ubi serta jagung bahkan masih dapat tumbuh pada bagian lahan yang relatif berbatu.
Pola ini menghasilkan ekonomi yang cukup fleksibel. Ketika menunggu hasil kebun, warga bisa mengandalkan ikan atau pekerjaan lain. Saat musim pertanian datang, sebagian waktu kembali diarahkan untuk mengolah kebun.
Karena itu, kekuatan Liya Togo bukan terletak pada satu komoditas saja. Kehidupan ekonominya justru terbentuk dari kombinasi sumber daya darat dan laut.
1. Rumput Laut, Komoditas Bahari dengan Potensi Besar
Kalau harus memilih salah satu produk bahari paling potensial, rumput laut Liya Togo layak berada di posisi teratas.
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Sosial Ekonomi Perikanan secara khusus mengkaji usaha budidaya Eucheuma cottonii di Desa Liya Togo.
Penelitian yang dilakukan pada 2019 tersebut menemukan rata-rata penerimaan usaha sekitar Rp6,048 juta per periode produksi, dengan keuntungan rata-rata sekitar Rp1,234 juta. Analisisnya menyimpulkan usaha tersebut layak dikembangkan secara finansial.
Potensi ini juga bukan berdiri sendiri. Kawasan Liya Raya sudah lama disebut sebagai salah satu sentra produksi rumput laut di Wakatobi.
Rumput laut memiliki kelebihan karena tidak berhenti sebagai bahan mentah. Di tingkat Kabupaten Wakatobi, komoditas ini telah dikembangkan menjadi berbagai produk pangan seperti dodol, keripik, stik, dan mi.
Artinya, peluang ekonominya bisa bergerak dari budidaya menuju pengolahan. Jika pengolahanya semakin berkembang di tingkat desa, nilai jual yang diterima masyarakat tentu berpotensi lebih besar dibanding hanya menjual bahan mentah.
2. Bawang Merah, Potensi Pertanian yang Serius Dikembangkan
Mungkin cukup mengejutkan menemukan bawang merah sebagai salah satu produk penting dari desa kepulauan seperti Liya Togo.
Namun, komoditas ini memiliki dasar yang cukup kuat.
Penelitian Universitas Halu Oleo mengenai usahatani bawang merah menyebut Liya Togo sebagai salah satu daerah penghasil bawang di Wakatobi dan mengkaji pemanfaatan pekarangan terbatas melalui sistem vertikultur.
Studi tersebut melibatkan 35 petani dan menunjukkan respons positif terhadap pengembangan usaha bawang sebagai tambahan pendapatan.
Potensinya kemudian mendapat perhatian lebih luas. Pada 2022, Pemerintah Kabupaten Wakatobi dan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara menjalankan pengembangan komoditas bawang merah, termasuk kegiatan bimbingan teknis di Desa Liya Togo.
Program tersebut melibatkan jaringan 903 petani dari berbagai wilayah Wakatobi dengan potensi pengembangan sekitar 30 hektare.
Dalam kehidupan kebun Liya sendiri, bawang biasanya membutuhkan lokasi dengan tanah lebih baik dibanding ubi dan jagung. Kajian lapangan mencatat tanaman ini banyak dikerjakan oleh perempuan dan hasil panennya kemudian dijual ke pasar.
Bawang merah akhirnya menarik bukan hanya sebagai produk kebun, tetapi juga sebagai peluang usaha rumah tangga.
3. Ubi Kayu dan Jagung, Pangan yang Bertahan di Lahan Berbatu
Tidak semua komoditas perlu bernilai tinggi untuk menjadi penting. Ubi kayu dan jagung adalah contoh bagaimana tanaman pangan bisa mempunyai posisi strategis dalam kehidupan masyarkat.
Kondisi tanah Liya yang berbatu justru membuat ubi kayu cukup relevan. Tanaman ini dapat ditanam di antara batu-batu pada lahan kebun.
Jagung juga mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap kondisi tersebut dan masa panennya lebih pendek daripada ubi.
Masyarakat memiliki pola tanam yang praktis. Jagung dapat ditanam lebih dahulu, kemudian disusul ubi sehingga pemanfaatan kebun berjalan secara berkelanjutan. Hasilnya digunakan untuk konsumsi maupun dipasarkan di sekitar desa dan pasar setempat.
Ubi Kayu Naik Kelas Menjadi Kasoami
Nilai ubi kayu tidak berhenti di kebun.
Penelitian mengenai pengembangan agrowisata Liya Togo pada 2025 mencatat keterlibatan perempuan dan pemuda dalam pengolahan singkong menjadi kasoami, salah satu makanan tradisional yang lekat dengan Wakatobi.
Di sinilah terlihat hubungan menarik antara pertanianya dan kebudayaan. Singkong bukan sekadar bahan pangan, tetapi bisa berubah menjadi kuliner yang mempunyai nilai jual sekaligus menjadi bagian dari pengalaman wisata.
4. Ikan dan Hasil Laut Menopang Kehidupan Sehari-hari
Sulit berbicara tentang komoditas Liya Togo tanpa memasukkan ikan dan hasil laut.
Kajian mengenai sistem penghidupan warga mencatat nelayan Liya Togo umumnya merupakan nelayan harian. Sebagian pengguna jaring berangkat sekitar sore hari dan kembali malam, dengan wilayah tangkap yang relatif dekat dari desa.
Ada pula nelayan karang yang menggunakan metode dan pola perjalanan berbeda. Kondisi ini memperlihatkan keragaman cara masyarakat memanfaatkan sumber daya laut sesuai musim, target tangkapan, dan kemampuan perahu.
Hasil laut kemudian berhubungan langsung dengan kuliner lokal.
Salah satu produk yang dicantumkan dalam profil resmi Desa Wisata Liya Togo adalah Salamu, selain Jus Sampalu dan Liwo. Jadesta juga mencatat keberadaan fasilitas kuliner dan tempat makan sebagai bagian dari layanan desa wisata.
Salamu sendiri dikenal sebagai olahan ikan yang dapat dinikmati bersama kasoami. Dengan demikian, kebun singkong dan laut sebenarnya bertemu di satu piring.
5. Kelor, Madu, dan Produk Olahan Membuka Peluang Baru
Perkembangan ekonomi Liya Togo mulai menunjukkan arah yang lebih beragam.
Penelitian 2025 mengenai strategi agrowisata pesisir mencatat adanya budidaya rumput laut, bawang merah, dan hortikultura lokal, serta pengolahan singkong menjadi kasoami.
Penelitian itu juga menyebut produk seperti teh kelor, saraba, dan madu hutan dalam aktivitas ekonomi masyarakat yang dikaitkan dengan pengembangan agrowisata.
Ini penting karena masa depan ekonomi desa tidak harus bergantung sepenuhnya pada penjualan komoditas mentah.
Ubi bisa menjadi makanan khas. Kelor dapat dikembangkan sebagai minuman. Rumput laut mempunyai peluang diolah menjadi pangan, sedangkan hasil laut dapat masuk ke kuliner dan produk oleh-oleh.
Pariwisata membantu membuka pasar untuk produk tersebut.
Jadesta mencatat Liya Togo mempunyai paket wisata, kuliner, suvenir, dan pengalaman budaya, sementara aktivitas kerajinan desa juga pernah mendapat dukungan mesin jahit serta bordir untuk meningkatkan kemampuan produksi lokal.
Potensi terbesarnya adalah menghubungkan komodtas lokal dengan pengalaman wisata. Wisatawan tidak hanya melihat Benteng Liya, tetapi juga dapat mengenal kebun, makanan, hasil laut, hingga proses produksi warga.
Tantangan dan Peluang Komoditas Liya Togo
Potensinya besar, tetapi pengembangan ekonomi lokal tentu tidak otomatis mudah.
Penelitian agrowisata Liya Togo mengidentifikasi keterbatasan infrastruktur, akses pasar, serta kebutuhan peningkatan pelatihan kewirausahaan sebagai beberapa tantangan.
Di sisi lain, keterlibatan kelompok perempuan dan pemuda menunjukkan adanya modal sosial untuk mengembangkan produk lokal lebih jauh.
Penguatan merek menjadi salah satu langkah yang menarik. Rumput laut, bawang merah, kasoami, teh kelor, madu, atau olahan ikan akan memiliki nilai lebih jika tidak berhenti sebagai produk tanpa identitas.
Kemasan yang baik, informasi asal produk, penjualan digital, serta hubungan dengan paket wisata bisa membuat wisatawan lebih mudah mengenali produk Liya.
Dengan pendekatan seperti itu, komoditas lokal bukan hanya membantu kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari cerita besar Desa Wisata Liya Togo.
Komoditas unggulan Desa Liya Togo memperlihatkan bahwa kekayaan desa ini tidak hanya tersimpan dalam benteng dan tradisinya.
Rumput laut, bawang merah, ubi kayu, jagung, ikan, serta berbagai produk olahan menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat yang memanfaatkan karakter darat dan laut sekaligus.
Potensi berikutnya berada pada peningkatan nilai tambah. Singkong bisa hadir sebagai kasoami, kelor menjadi minuman, ikan diolah menjadi kuliner, dan rumput laut mempunyai banyak peluang pengembangan produk.
Kalau berkunjung ke Liya Togo, jangan hanya membawa pulang foto dari Benteng Liya. Cobalah kuliner dan produk buatan warga, tanyakan asal bahan yang digunakan, dan belanjalah langsung dari pelaku lokal.
Cara sederhana tersebut ikut membantu ekonomi desa tetap tumbuh bersama kebudayaannya.
FAQ
1. Apa komoditas utama yang dihasilkan masyarakat Liya Togo?
Beberapa yang terdokumentasi adalah rumput laut, bawang merah, ubi kayu, jagung, dan hasil perikanan. Masyarakat juga mengembangkan berbagai produk olahan berbasis bahan lokal.
2. Apakah Liya Togo menghasilkan rumput laut?
Ya. Penelitian ekonomi secara khusus telah dilakukan terhadap budidaya Eucheuma cottonii di Desa Liya Togo dan menyimpulkan usaha tersebut layak dikembangkan dari sisi finansial.
3. Mengapa ubi kayu penting bagi Liya Togo?
Ubi relatif cocok dengan kondisi lahan berbatu dan menjadi bahan pangan lokal. Singkong juga dapat diolah menjadi kasoami yang mempunyai nilai budaya serta potensi ekonomi.
4. Apakah bawang merah dikembangkan di Liya Togo?
Ya. Desa ini pernah menjadi lokasi penelitian usahatani bawang merah dan tempat pelaksanaan program pengembangan komoditas bawang oleh Pemkab Wakatobi bersama Bank Indonesia Sulawesi Tenggara.
5. Apa peluang ekonomi terbesar dari komoditas Liya Togo?
Selain peningkatan produksi, peluangnya terletak pada pengolahan bahan menjadi kuliner, minuman, suvenir pangan, dan pengalaman agrowisata sehingga nilai produk dapat meningkat sebelum dipasarkan.
