Honari Mosega dan Tradisi Penyambutan Tamu di Liya Togo

Bayangkan baru memasuki kawasan Desa Liya Togo di Wakatobi, lalu suara tamburu mulai terdengar. Sejumlah laki-laki berpakaian adat bergerak tegas, melompat, berteriak, dan membawa perlengkapan yang mengingatkan pada para prajurit masa lalu.

Penyambutan seperti ini jelas berbeda dari ucapan selamat datang biasa. Inilah Honari Mosega dan tradisi penyambutan tamu yang menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Liya.

Sekarang tarian tersebut dapat ditampilkan untuk menyambut wisatawan dan tamu yang datang ke desa, tetapi akar sejarahnya jauh lebih tua.

Honari Mosega pada dasarnya merupakan tarian perang yang menggambarkan keberanian, kesiapan, kekompakan, dan semangat para prajurit Liya.

Indonesia Travel mencatat bahwa wisatawan yang memasuki Desa Liya Togo dapat disambut dengan kain khas desa, bunyi tamburu, dan pertunjukan Honari Mosega.

Dari sinilah daya tariknya muncul. Sebuah tarian yang dahulu berhubungan dengan peperangan kini menjadi cara masyarakat menunjukkan rasa hormat sekaligus memperkenalkan sejarah kampung kepada tamu.

Apa Itu Tari Honari Mosega?

Honari Mosega merupakan tari tradisional masyarakat Liya di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sumber resmi Jadesta Kementerian Pariwisata menjelaskannya sebagai tarian perang asli Liya yang menceritakan keberanian serta semangat para prajurit.

Pada masa lalu, tarian ini dipertunjukkan sebelum dan sesudah peperangan. Sebelum berangkat, gerakan tarian menjadi cara membangkitkan keberanian para prajurit. Setelah kembali dengan kemenangan, pertunjukan menjadi ungkapan kegembiraan.

Artinya, Honari Mosega sejak awal bukan hanya hiburan. Di dalamnya terdapat pesan mengenai keberanian, pertahanan wilayah, solidaritas, dan kesetiaan terhadap komunitas.

Inilah yang membuatnya berbeda dari tari penyambutan yang sejak awal diciptakan khusus untuk menerima tamu. Fungsi penyambutan pada Honari Mosega berkembang dari sebuah tradisi yang sebelumnya erat dengan kehidupan para kesatria Liya.

Dari Tarian Perang Menjadi Penyambutan Tamu

Perubahan fungsi Honari Mosega menjadi bagian paling menarik dalam perjalanan tradisi ini.

Penelitian Wa Ode Yayan Fitriyani mengenai Honari Mosega menyebut bahwa tarian tersebut dahulu sering ditampilkan di Keraton Liya untuk menjemput tamu-tamu agung. Kini, pertunjukannya juga hadir dalam festival dan berbagai kegiatan budaya.

Pada masa Kesultanan Buton, penyambutan semacam itu terutama berkaitan dengan kedatangan sultan, perangkat pemerintahan, maupun tamu penting lainnya. Dengan demikian, menghadirkan Honari Mosega di depan seorang tamu bukan sekadar memberikan hiburan.

Pertunjukan tersebut menjadi bentuk penghormatan.

Menariknya, karakter tarian tidak kemudian berubah menjadi lembut hanya karena digunakan untuk penyambutan. Gerakannya tetap kuat, energik, dan bernuansa keprajuritan. Justru kesan gagah itulah yang membuat penyambutan terasa khas.

Seolah-olah masyarakat Liya ingin mengatakan kepada tamunya: Anda sedang memasuki sebuah negeri yang mempunyai sejarah, penjaga, dan kehormatan.

Gerakan Honari Mosega yang Penuh Energi

Kalau diperhatikan, Honari Mosega memang tidak menawarkan gerakan yang tenang. Penari bergerak dengan energi besar, disertai langkah maju-mundur, lompatan, teriakan, dan gerak yang mengingatkan pada teknik pertempuran.

Penelitian Universitas Negeri Makassar mencatat sejumlah ragam geraknya, antara lain somba, rungku poganti, tobo, simpa’e, bhangke, hemodho, mosega, dan beberapa bentuk penghormatan lainnya.

Penelitian yang sama mencatat adanya sembilan pola lantai dalam bentuk penyajian yang diteliti. Gerakan tersebut juga mempunyai hubungan dengan perjalanan simbolis pertunjukan.

Dalam dokumentasi Jadesta, ketika dipentaskan dalam lingkungan Keraton Liya, penari terlebih dahulu memberi penghormatan ke arah Masjid Agung Keraton Liya.

Gerakan selanjutnya diarahkan ke makam leluhur, masyarakat, hingga Baruga sebagai ruang pertemuan pemerintahan adat.

Urutan itu membuat Honari Mosega terasa seperti perjalanan melalui ruang budaya Liya.

Bukan hanya tubuh penari yang bergerak, tetapi ada penghormtan kepada agama, leluhur, masyarakat, dan kelembagaan adat yang menjadi bagian dari kehidupan kampung.

Tompidhe, Pasukan Pengawal, dan Properti Tarian

Honari Mosega juga menarik dari sisi komposisi penarinya.

Penelitian UNM mencatat bentuk penyajian Honari Mosega yang diteliti melibatkan 44 penari laki-laki. Dalam pertunjukan dikenal penari inti dan pasukan pendamping dengan fungsi masing-masing.

Sumber Jadesta menjelaskan adanya pasukan pengawal yang membawa tombak serta seorang pembawa bendera. Perlengkapan tersebut bukan dekorasi semata karena berhubungan dengan asal tarian sebagai gambaran kehidupan pasukan dan pertahanan wilayah.

Dalam berbagai dokumentasi juga dikenal sosok Tompidhe, penari inti yang membawa perlengkapan menyerupai senjata. Kehadirannya membuat karakter perang dari Honari Mosega terlihat jelas.

Busana tradisional, tombak, bendera, dan atribut lainnya kemudian membentuk satu pertujukan yang kuat secara visual.

Namun, bentuk pertunjukan dapat menyesuaikan konteks acara. Tidak berarti setiap penyambutan wisatawan harus menghadirkan keseluruhan puluhan pemain seperti bentuk lengkap yang terdokumentasi dalam penelitian.

Tamburu Membentuk Suasana Penyambutan

Gerakan Honari Mosega sulit dipisahkan dari suara tamburu, alat musik pukul yang menjadi bagian penting dalam pertunjukannya.

Penelitian mengenai bentuk penyajian tarian tersebut mencatat musik eksternal yang digunakan adalah tamburu. Ritmenya membantu membangun suasana tegas sekaligus menentukan energi gerakan penari.

Untuk seorang pengunjung, suara tamburu sering menjadi tanda pertama bahwa sebuah prosesi budaya sedang berlangsung.

Indonesia Travel menggambarkan pengalaman kedatangan di Desa Liya Togo dengan wisatawan yang dipakaikan kain khas desa kemudian disambut oleh tamburu dan Honari Mosega. Setelah itu, pengunjung juga dapat mengenal kesenian lokal lain seperti Lariangi.

Jadi penyambutan sebenarnya tidak berhenti pada satu tarian. Ia menjadi pintu masuk untuk mengenal kekayaan budaya Liya yang lebih luas.

Makna Keberanian di Balik Penyambutan Tamu

Sekilas ada sesuatu yang terasa bertolak belakang: mengapa tamu justru disambut dengan tarian perang?

Jawabannya terletak pada perubahan makna.

Unsur keprajuritan dalam Honari Mosega sekarang bukan berarti tamu dianggap sebagai ancaman. Sebaliknya, keberanian para penari menghadirkan identitas masyarakat yang sedang diperkenalkan kepada orang yang datang.

Honari Mosega membawa ingatan mengenai para leluhur yang mempertahankan wilayahnya. Semangat tersebut kemudian dapat dibaca dalam konteks sekarang sebagai simbol keberanian, kesetiaan, kekompakan, dan kebanggaan terhadap Liya.

Karena itu, sebuah penyambutan dengan Honari Mosega mempunyai lapisan makna yang cukup dalam.

Tamu bukan sekadar melihat tarian. Mereka diperkenalkan kepada karakter masyarakat melalui bahasa gerak, musik, busana, dan simbol-simbol masa lalu.

Honari Mosega dalam Pariwisata Liya Togo

Sekarang Honari Mosega juga menjadi bagian dari pengalaman wisata budaya Desa Liya Togo.

Profil Jadesta mencantumkan Honari Mosega sebagai salah satu atraksi wisata budaya desa bersama Posepaa, Honari Wowine, dan Hewale-walea.

Keberadaan atraksi seperti ini membantu Liya Togo menawarkan pengalaman yang berbeda dari citra Wakatobi yang selama ini sangat terkenal dengan wisata baharinya.

Wisatawan bisa menikmati laut, tetapi juga mengenal masyarakat yang sudah hidup di kawasan tersebut selama bergenerasi.

Honari Mosega membuat perjalanan menjadi lebih kontekstual. Setelah menyaksikannya, wisatawan dapat melanjutkan kunjungan ke Benteng Liya, masjid tua, baruga, dan berbagai ruang adat sehingga cerita mengenai tarian terasa lebih mudah dipahami.

Inilah potensi wisata budaya yang menarik: sebuah atraksi tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan sejarah tempatnya.

Menjaga Honari Mosega Agar Tidak Sekadar Menjadi Tontonan

Popularitas dalam pariwisata tentu membawa peluang sekaligus tantangan.

Pertunjukan Honari Mosega dapat membuka ruang ekonomi, memperkenalkan Liya kepada masyarakat luas, dan mendorong generasi muda untuk mempelajari budayanya.

Namun, tarian akan kehilangan sebagian nilainya jika hanya dipandang sebagai tontonan untuk kamera.

Sebuah kajian mengenai dokumentasi budaya lokal Wakatobi pada 2025 memasukkan Honari Mosega bersama tarian tradisional lain sebagai warisan bernilai tinggi yang penting didokumentasikan agar pengetahuan budaya tersebut tetap tersedia bagi generasi berikutnya.

Karena itu, pelestarian bukan hanya soal mempertahankan kostum dan gerakan.

Cerita di balik gerakan, fungsi pemain, makna tamburu, hubungan tarian dengan Keraton Liya, dan pengetahuan para tetua juga perlu diwariskan.

Jika bagian-bagian tersebut hilang, generasi berikutnya mungkin masih bisa menari, tetapi tidak lagi mengetahui mengapa mereka menarikan gerakan itu.

Peran masyarkat Liya sendiri akhirnya menjadi sangat penting dalam menentukan bagaimana Honari Mosega diperkenalkan kepada dunia luar.

Honari Mosega dan tradisi penyambutan tamu menunjukkan bagaimana warisan masa lalu dapat memperoleh fungsi baru tanpa harus kehilangan identitas dasarnya.

Berawal dari tradisi yang erat dengan peperangan dan semangat prajurit Liya, Honari Mosega kemudian digunakan untuk menyambut tamu agung dan kini menjadi salah satu atraksi budaya Desa Liya Togo.

Gerakan energik, suara tamburu, perlengkapan keprajuritan, serta rangkaian penghormatan membuat tarian ini memiliki karakter yang sulit ditemukan di tempat lain.

Kalau berkunjung ke Liya Togo, jangan hanya merekam pertunjukannya. Dengarkan pula penjelasan masyarakat dan pemandu lokal tentang cerita di balik setiap gerakan.

Dari sana, Honari Mosega tidak lagi terlihat sekadar sebagai tarian penyambutan, tetapi sebagai potongan sejarah Liya yang masih bergerak hingga hari ini.

FAQ

1. Apa itu Honari Mosega?

Honari Mosega adalah tarian tradisional bernuansa perang dari masyarakat Liya di Wakatobi. Pada masa lalu tarian ini berkaitan dengan semangat dan kegembiraan para prajurit sebelum maupun sesudah peperangan.

2. Mengapa Honari Mosega digunakan untuk menyambut tamu?

Dalam perkembangannya, Honari Mosega ditampilkan di lingkungan Keraton Liya untuk menyambut tamu agung. Tradisi penghormatan tersebut kemudian tetap hidup dan sekarang juga diperkenalkan dalam kegiatan wisata serta acara budaya.

3. Siapa yang menarikan Honari Mosega?

Honari Mosega terutama ditampilkan oleh laki-laki dengan karakter sebagai prajurit. Salah satu penelitian mengenai bentuk lengkap penyajiannya mencatat keterlibatan 44 penari laki-laki.

4. Alat musik apa yang digunakan dalam Honari Mosega?

Iringan utamanya menggunakan tamburu, yaitu instrumen pukul yang menghasilkan ritme kuat untuk mengiringi gerakan para penari.

5. Di mana wisatawan dapat melihat Honari Mosega?

Honari Mosega menjadi salah satu atraksi budaya Desa Wisata Liya Togo di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi. Karena pertunjukannya berkaitan dengan acara tertentu, pengunjung sebaiknya mengecek agenda atau paket wisata budaya terlebih dahulu.