Budidaya Rumput Laut di Desa Liya Togo: Potensi Bahari Wakatobi

Kalau mendengar Liya Togo, bayangan pertama mungkin adalah Benteng Keraton Liya, tradisi Posepaa, atau Honari Mosega.

Namun, sedikit bergeser ke kawasan pesisir, kita akan menemukan sisi kehidupan lain yang tidak kalah penting: masyarakat yang memanfaatkan laut sebagai ruang produksi melalui budidaya rumput laut.

Budidaya rumput laut di Desa Liya Togo bukan sekadar aktivitas tambahan. Penelitian yang dilakukan di desa ini menunjukkan bahwa usaha Eucheuma cottonii memiliki nilai ekonomi dan dinilai layak dikembangkan.

Data penelitian lapangan 2019 mencatat rata-rata penerimaan sekitar Rp6,048 juta dan keuntungan sekitar Rp1,234 juta untuk setiap siklus produksi pada responden yang diteliti.

Potensi tersebut juga didukung posisi Liya dalam kawasan Wangi-Wangi Selatan. Penelitian lain mencatat Liya Togo sebagai salah satu dari empat desa yang berpotensi mengembangkan rumput laut, dengan 50 rumah tangga perikanan budidaya tercatat dalam data penelitian tahun 2020.

Dari bibit yang diikat pada tali hingga hasil panen yang dikeringkan, rumput laut memperlihatkan bagaimana masyarakat Liya memanfaatkan kekayaan laut tanpa harus selalu menangkap ikan.

Mengapa Liya Togo Potensial untuk Budidaya Rumput Laut?

Liya Togo berada di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, wilayah kepulauan yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan perairan pesisir. Kondisi ini memberi peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan perikanan budidaya selain aktivitas penangkapan ikan.

Potensi tersebut sudah mendapat perhatian sejak beberapa tahun lalu. Pada 2016, Pemerintah Kabupaten Wakatobi menetapkan kawasan Liya Raya sebagai salah satu sentra produksi budidaya rumput laut.

Program tersebut juga dikaitkan dengan pengembangan produksi bahan baku agar-agar serta pengelolaan sumber daya kelautan.

Pengembangan tidak berhenti pada satu desa. Penelitian tahun 2020 mencatat empat wilayah potensial di Wangi-Wangi Selatan, yaitu Liya One Melangka, Liya Mawi, Liya Bahari Indah, dan Liya Togo.

Totalnya saat itu mencapai 250 rumah tangga perikanan pembudidaya rumput laut. Liya Togo sendiri tercatat mempunyai 50 rumah tangga perikanan budidaya dalam data tersebut.

Angka itu tidak harus dianggap sebagai kondisi terkini karena berasal dari penelitian beberapa tahun lalu, tetapi cukup menunjukkan bahwa budidya rumput laut sudah memiliki basis masyarakat yang nyata.

Rumput Laut Apa yang Dibudidayakan di Liya Togo?

Salah satu jenis yang paling banyak muncul dalam penelitian Liya Togo adalah Eucheuma cottonii.

Penelitian Wa Ode Oliviati, La Onu La Ola, dan Wa Ode Piliana secara khusus mengkaji usaha budidaya Eucheuma cottonii di Desa Liya Togo.

Penelitian lain di Wangi-Wangi Selatan juga membahas pengembangan bibit jenis yang sama untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan pembudidaya.

Rumput laut jenis ini menarik karena mempunyai pasar yang luas sebagai bahan baku pengolahan. Dalam pengembangan sektor rumput laut Wakatobi, pemerintah bahkan mendorong hilirisasi sehingga hasil laut tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.

Laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2023 mencatat pengembangan E. cottonii menjadi bagian dari modeling usaha rumput laut di Wakatobi.

Sementara itu, KKP juga mencatat bahwa jenis spinosum telah dikembangkan di Wakatobi. Melalui program modeling, E. cottonii diperkenalkan karena memiliki nilai jual yang dinilai lebih tinggi dibanding spinosum.

Artinya, pilihan varietas menjadi bagian penting dalam menentukan produktivitas dan peluang pasar bagi pembudidaya.

Bagaimana Proses Budidaya Rumput Laut Dilakukan?

Budidaya rumput laut terlihat sederhana dari kejauhan. Ada tali mengapung di laut dan tanaman yang tumbuh mengikuti arus. Namun, praktiknya membutuhkan beberapa tahapan yang saling berkaitan.

Salah satu dokumentasi perpustakaan Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan Wakatobi bahkan secara khusus mencatat kegiatan pembibitan rumput laut cottonii menggunakan metode long line di Desa Liya Togo.

1. Menyiapkan Bibit dan Tali

Tahap awal dimulai dengan memilih bibit sehat. Bibit kemudian dipotong sesuai kebutuhan dan diikat pada tali menggunakan tali pengikat yang lebih kecil.

Penelitian dempond di Wangi-Wangi Selatan mencatat kebutuhan sarana seperti bibit, tali tambang, tali jangkar, tali pengikat bibit, pelampung, serta jarum tali.

Ini menunjukkan bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh bibit, tetapi juga kesiapan konstruksi tempat tanaman dibesarkan.

Bibit yang sudah terpasang kemudian ditempatkan pada kawasan budidaya. Dalam metode long line, tali utama dibentangkan dan dipertahankan posisinya menggunakan pelampung serta jangkar.

2. Pemeliharaan sampai Panen

Setelah penanaman, pembudidaya perlu memeriksa kondisi tali, tanaman, dan area sekitarnya secara rutin. Rumput laut dapat terganggu oleh kotoran, perubahan kondisi perairan, penyakit, maupun cuaca yang kurang mendukung.

Masa pemeliharaan dalam praktik budidaya rumput laut dapat berlangsung beberapa minggu.

Catatan mengenai sentra Liya Raya pada 2017 menyebut periode sekitar 45 hari dalam pembahasan pendapatan petani per masa panen, meskipun durasi aktual dapat berubah mengikuti kondisi lingkungan dan praktik pembudidaya.

Setelah mencapai ukuran yang diinginkan, tanaman dipanen. Sebagian hasil berkualitas dapat dipertimbangkan kembali sebagai bibit, sementara sisanya masuk ke proses pascapanen dan pemasaran.

Rumput Laut sebagai Sumber Pendapatan Masyarakat

Alasan budidaya ini penting tentu bukan hanya karena rumput laut bisa tumbuh di perairan Liya.

Ada nilai ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat.

Penelitian ekonomi yang dilakukan di Desa Liya Togo pada Oktober-November 2019 menemukan rata-rata total biaya usaha sekitar Rp4.814.457 per produksi. Rata-rata penerimaan mencapai sekitar Rp6.048.000, sedangkan keuntungan rata-rata tercatat Rp1.233.543.

Berdasarkan analisis finansial penelitian tersebut, usaha ini dinilai layak dikembangkan.

Angka ini penting dibaca sesuai konteks waktunya. Harga rumput laut, bibit, tali, transportasi, dan tenaga kerja dapat berubah sehingga nilai tersebut tidak bisa langsung dianggap sebagai pendapatan pembudidaya saat ini.

Namun data itu memberikan gambaran bahwa rumput laut memang mempunyai fungsi ekonomi nyata di desa.

Bagi rumah tangga pesisir, budidaya juga menawarkan model penghidupan yang berbeda dari menangkap ikan. Masyarakat tidak harus terus bergerak mencari ikan, tetapi mengelola area produksi dan menunggu tanaman berkembang sebelum dipanen.

Bibit Menjadi Salah Satu Kunci Keberhasilan

Salah satu persoalan penting dalam budidaya rumput laut adalah ketersediaan bibit berkualitas.

Pada 2017, Pemerintah Kabupaten Wakatobi pernah menyampaikan bahwa pembudidaya masih menghadapi kesulitan memperoleh bibit karena saat itu belum tersedia balai benih rumput laut yang mampu memenuhi kebutuhan secara lokal.

Liya Raya disebut sebagai salah satu kawasan pengembangan yang terdampak persoalan tersebut. Perkembangannya kemudian cukup menarik.

Pada 2024, Kementerian Kelautan dan Perikanan mendokumentasikan aktivitas di Unit Produksi Bibit Rumput Laut Kultur Jaringan Wakatobi, termasuk kegiatan pengikatan bibit bersama perempuan pembudidaya.

Hal ini menunjukkan adanya upaya lebih lanjut untuk memperkuat sisi perbenihan di Wakatobi.

Bibit berkualitas penting karena berhubungan dengan pertumbuhan, produktivitas, dan kualtas hasil panen.

Tanpa bibit yang konsisten, pembudidaya dapat menghadapi produktivitas yang tidak stabil sekalipun lokasi budidayanya potensial.

Tantangan Budidaya: Harga, Modal, hingga Pascapanen

Rumput laut mempunyai peluang besar, tetapi usaha ini tidak bebas risiko.

Harga menjadi salah satu persoalan klasik. ANTARA pernah mencatat petani di sentra Liya Raya menjual hasil kepada pedagang pengumpul dengan harga yang berfluktuasi. Saat harga melemah, pendapatan pembudidaya tentu ikut tertekan.

Masalah lainnya berkaitan dengan modal, ketersediaan bibit, sarana produksi, dan teknologi budidaya.

Laporan KKP tahun 2023 mengenai kelompok pembudidaya di Wakatobi mengidentifikasi kendala seperti terbatasnya modal, kesulitan memperoleh bibit berkualitas, dan teknik budidaya yang masih tradisional.

Kebutuhan pelatihan teknis dan tata kelola kelompok juga ikut mendapat perhatian. Pascapanen menjadi tantangan berikutnya.

Rumput laut yang akan dipasarkan dalam kondisi kering membutuhkan proses pengeringan yang baik.

KKP mencatat usulan pembangunan rumah pengering di dekat laut agar pemindahan hasil panen basah lebih mudah sekaligus membantu meningkatkan mutu produk.

Jadi masalahnya bukan cuma bagaimana menumbuhkan rumput laut. Rantai dari bibit sampai pemasran harus sama-sama berjalan.

Dari Rumput Laut Kering Menuju Produk Bernilai Tambah

Selama bertahun-tahun, salah satu tantangan sektor rumput laut adalah besarnya ketergantungan pada penjualan bahan mentah.

Wakatobi mulai melihat peluang untuk bergerak lebih jauh melalui hilirisasi. Pada 2023, KKP melakukan pembahasan peluang investasi industri rumput laut dan survei lapangan yang turut melibatkan Kepala Desa Liya Togo serta pembudidaya setempat.

Beberapa peluang dibicarakan, termasuk rumah pengering, penguatan koperasi, penjualan rumput laut basah dengan skema harga yang menguntungkan, hingga industri pupuk berbahan baku rumput laut.

KKP juga menilai BUMDes dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari sistem hilirisasi.

Inilah tahap yang berpotensi membuat ekonomi rumput laut berkembang.

Bayangkan jika petani tidak hanya menjual hasil kering kepada pengepul, tetapi sebagian produksinya dapat masuk ke pengolahan lokal. Nilai ekonomi yang tercipta berpotensi bertahan lebih lama di Wakatobi dan membuka pekerjaan baru di luar proses budidaya.

Pengelolan koperasi juga penting agar pembudidaya mempunyai posisi tawar lebih baik ketika berhadapan dengan pasar.

Menjaga Budidaya Tetap Ramah terhadap Laut Wakatobi

Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: Liya Togo berada dalam Wakatobi, kawasan yang dikenal karena kekayaan ekosistem lautnya.

Karena itu, peningkatan produksi perlu tetap memperhatikan kesesuaian ruang, arus, kualitas perairan, jalur transportasi laut, dan keberlanjutan ekosistem.

Laporan KKP tentang pengembangan rumput laut Wakatobi menyebut pemanfaatan potensi di zona tradisional Taman Nasional dilakukan melalui kerja sama dengan kelompok masyarakat.

Program modeling juga dirancang hanya menggunakan sebagian kecil kawasan yang menjadi bagian pengembangan Wakatobi.

Pendekatan semacam ini penting. Rumput laut memang mempunyai nilai ekonomi, tetapi laut yang sehat merupakan modal utama yang membuat usaha tersebut mungkin dilakukan sejak awal.

Budidaya yang baik seharusnya membuat ekonomi masyarakat dan kelestarian perairan berjalan berdampingan.

Budidaya rumput laut di Desa Liya Togo memperlihatkan sisi lain kehidupan Wakatobi yang tidak hanya bergantung pada wisata dan penangkapan ikan.

Kawasan Liya telah lama dikenal sebagai salah satu sentra pengembangan rumput laut, sementara penelitian di Liya Togo menunjukkan usaha Eucheuma cottonii mempunyai potensi ekonomi yang layak dikembangkan.

Tantangannya masih ada, mulai dari bibit, modal, teknologi, harga, hingga pascapanen. Namun perkembangan perbenihan, penguatan koperasi, rumah pengering, dan rencana hilirisasi membuka peluang agar rumput laut memberikan nilai ekonomi yang lebih besar.

Saat berkunjung ke Liya Togo, jangan hanya mengenal benteng dan tradisinya. Lihat pula kehidupan pesisirnya. Dari tali-tali rumput laut yang terbentang di perairan, kita bisa melihat bagaimana laut Wakatobi ikut menjadi ladang penghidupan masyarakat.

FAQ

1. Apakah Liya Togo merupakan daerah penghasil rumput laut?

Ya. Liya Togo termasuk kawasan potensial budidaya rumput laut di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan. Penelitian tahun 2020 mencatat 50 rumah tangga perikanan budidaya rumput laut di desa tersebut.

2. Jenis rumput laut apa yang dibudidayakan?

Salah satu jenis yang terdokumentasi secara khusus di Liya Togo adalah Eucheuma cottonii. Jenis ini menjadi objek penelitian ekonomi maupun kegiatan pengembangan budidaya di Wangi-Wangi Selatan.

3. Berapa lama rumput laut dapat dipanen?

Masa panen bergantung pada bibit, metode, musim, dan kondisi perairan. Dalam catatan mengenai budidaya di Liya Raya, satu siklus pemeliharaan pernah digambarkan berlangsung sekitar 45 hari.

4. Apakah usaha rumput laut di Liya Togo menguntungkan?

Penelitian berdasarkan data 2019 menemukan rata-rata keuntungan sekitar Rp1,23 juta per produksi pada responden yang diteliti dan menyimpulkan usaha tersebut layak secara finansial. Angka ini merupakan data penelitian historis, bukan patokan keuntungan saat ini.

5. Apa tantangan utama budidaya rumput laut?

Tantangannya antara lain kualitas dan ketersediaan bibit, modal, teknik budidaya, harga yang berfluktuasi, pengeringan, serta akses pemasaran. Penguatan koperasi dan hilirisasi menjadi beberapa pendekatan yang sedang didorong.