Kuliner Liya Togo yang Wajib Dicoba: Dari Kasoami hingga Salamu

Datang ke Liya Togo rasanya belum lengkap kalau hanya menjelajahi Benteng Keraton Liya, menyaksikan Honari Mosega, lalu langsung pulang.

Ada satu pengalaman lain yang justru bisa membuat perjalanan lebih mudah diingat: duduk bersama warga dan mencicipi makanan yang biasa hadir di meja mereka.

Kuliner Liya Togo yang wajib dicoba memperlihatkan hubungan menarik antara kebun dan laut. Singkong diolah menjadi kasoami, sedangkan kekayaan perairan menghadirkan ikan asap, ikan pari, hingga kerang sebagai lauk.

Indonesia Travel bahkan mencatat kasoami, salamu, dan kaindolu sebagai sajian yang dapat ditemukan dalam konteks kuliner dan acara adat di Desa Liya Togo.

Desa ini juga mempunyai cara khas dalam menjamu tamu melalui Liwo, sementara buah asam yang tumbuh di sekitar Benteng Liya diolah menjadi Jus Sampalu. Keduanya tercatat sebagai produk kuliner Desa Wisata Liya Togo.

Jadi, wisata kuliner di sini bukan hanya urusan rasa. Setiap hidangan membawa cerita mengenai alam, tradisi, keramahan, dan cara masyarakat Liya memanfaatkan bahan yang tersedia di sekeliling mereka.

Cita Rasa Liya Togo Lahir dari Kebun dan Laut

Karakter makanan Liya Togo sangat dipengaruhi lingkungan Pulau Wangi-Wangi. Singkong menjadi salah satu bahan pangan penting, sementara ikan dan hasil laut memberi variasi lauk bagi masyarakat pesisir.

Indonesia Travel menggambarkan hidangan Liya Togo melalui kombinasi kasoami dari singkong dengan ikan asap, salamu berbahan ikan pari, serta kaindolu dari kerang.

Pola ini terasa sederhana, tetapi justru menjadi kekuatan kuliner lokal. Tidak banyak bahan yang harus dibuat rumit untuk menghasilkan hidangan berkarakter.

Penelitian mengenai pengembangan agrowisata Liya Togo pada 2025 juga mencatat keterlibatan kelompok perempuan dan pemuda dalam pengolahan singkong menjadi makanan tradisional berupa kasoami.

Selain itu, masyarakat mengembangkan minuman seperti saraba, teh kelor, dan madu hutan.

Dengan kata lain, makanan di Liya tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan pertanian, sumber daya pesisir, aktivitas rumah tangga, dan kini juga perkembangan pariwisata desa.

1. Kasoami, Makanan Sederhana yang Jadi Teman Berbagai Lauk

Menu pertama yang layak dicoba adalah kasoami. Hidangan berbahan dasar singkong ini merupakan salah satu makanan yang sangat lekat dengan masyarakat Wakatobi dan juga disajikan di Liya Togo. Indonesia Travel menyebut kasoami di desa ini biasa dimakan bersama ikan asap.

Rasanya cenderung netral sehingga cocok menjadi pengganti nasi. Justru karena tidak terlalu dominan, kasoami mudah dipadukan dengan lauk yang asin, gurih, pedas, atau sedikit asam.

Teksturnya cukup padat dan mengenyangkan. Bagi orang yang baru pertama kali mencicipinya, sensasinya jelas berbeda dari nasi maupun kentang.

Menariknya, penelitian tentang Liya Togo menunjukkan pengolahan singkong menjadi kasoami masih menjadi bagian dari kegiatan ekonomi lokal.

Artinya, kuliner ini bukan sekadar menu yang sengaja dihadirkan untuk turis, tetapi masih terhubung dengan bahan pangan dan keterampilan masyarakat.

Paling Enak Dimakan dengan Apa?

Kalau ingin pengalaman yang lebih autentik, coba kasoami bersama lauk berbahan ikan.

Indonesia Travel secara khusus menyebut pasangan kasoami dan ikan asap ketika membahas makanan Desa Liya Togo. Rasa asap dan gurih ikan memberi kontras yang pas dengan karakter singkong yang lebih ringan.

Kasoami juga menjadi pasangan penting untuk salamu. Kombinasi keduanya membuat kita bisa merasakan karakter masakan Liya dalam satu kali makan.

2. Salamu, Olahan Ikan Pari yang Punya Karakter Kuat

Kalau ingin mencicipi sesuatu yang lebih khas Liya Togo, Salamu harus masuk daftar.

Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat Salamu sebagai salah satu produk Desa Wisata Liya Togo. Hidangan ini dibuat dari daging ikan pari yang disuir-suir, kemudian dimasak dengan bumbu berbahan buah belimbing dan kelapa goreng. Salamu disajikan sebagai lauk bersama soami atau kasoami.

Indonesia Travel juga menggambarkan Salamu sebagai olahan dari ikan pari yang diasap. Kombinasi ikan, unsur asap, kelapa, dan rasa asam dari belimbing membuat kuliner ini punya identitas yang cukup kuat.

Bagi wisatawan yang terbiasa dengan abon atau ikan suwir, bentuk Salamu mungkin terasa familiar. Tetapi karakter bahannya membuat rasa akhirnya berbeda.

Yang menarik bukan hanya rasanya. Salamu memperlihatkan bagaimana masyarkat pesisir mengembangkan teknik pengolahan ikan menjadi lauk yang dapat dipadukan dengan pangan berbasis singkong.

Kalau hanya punya kesempatan mencoba dua makanan di Liya Togo, pasangan Salamu dan kasoami adalah pilihan yang sangat masuk akal.

3. Kaindolu, Sate Kerang dari Kekayaan Laut Wakatobi

Selain ikan, laut di sekitar Wakatobi juga memberikan bahan pangan berupa kerang. Salah satu hidangan yang disebut dalam dokumentasi resmi pariwisata adalah Kaindolu.

Indonesia Travel menjelaskan Kaindolu sebagai sate kerang dan memasukkannya bersama kasoami serta Salamu ketika membahas sajian khas dalam acara adat Desa Liya Togo.

Bagi pecinta seafood, menu seperti ini tentu menarik. Kerang memberikan tekstur dan rasa laut yang berbeda dibanding ikan.

Keberadaan Kaindolu juga memperlihatkan keragaman bahan dalam tradisi makan masyarakat Liya. Laut tidak hanya menghasilkan satu jenis lauk, melainkan berbagai sumber pangan yang kemudian diolah sesuai pengetahuan lokal.

Karena ketersediaan hasil laut bisa dipengaruhi musim dan tangkapan, Kaindolu mungkin tidak selalu tersedia seperti menu restoran kota. Justru itu bagian dari pengalaman kuliner tradisonal: hidangan mengikuti apa yang tersedia dari lingkungan.

Jika menemukan Kaindolu ketika berkunjung, tidak ada salahnya langsung mencoba.

4. Liwo, Bukan Nama Makanan tetapi Cara Menjamu Tamu

Ada satu istilah yang perlu dikenali sebelum berburu kuliner Liya: Liwo.

Liwo bukan satu jenis masakan tertentu. Jadesta menjelaskannya sebagai paket kuliner berupa aneka makanan daerah dan camilan yang ditata di dalam talam, kemudian ditutup dengan Katubhangko, tudung saji khas Liya.

Yang membuat Liwo istimewa adalah konteks penyajianya.

Menurut Jadesta, Liwo biasa digunakan untuk menjamu tamu kehormatan, dalam kegiatan adat, serta saat Lebaran ketika keluarga atau tamu datang berkunjung. Dengan demikian, Liwo lebih dekat pada tradisi penyajian dan keramahan daripada sekadar nama sebuah makanan.

Bayangkan datang sebagai tamu lalu di depan kita diletakkan talam berisi berbagai sajian lokal di bawah tudung tradisional. Pengalaman seperti ini tentu berbeda dari memesan makanan satu per satu melalui daftar menu.

Liwo menunjukkan bahwa dalam budaya Liya, makanan juga menjadi bahasa penghormatan.

5. Jus Sampalu, Minuman Segar dari Sekitar Benteng Liya

Setelah menikmati kasoami dan lauk bercita rasa kuat, pilihan minuman yang menarik adalah Jus Sampalu.

Jadesta menjelaskan Jus Sampalu dibuat dari buah asam yang banyak ditemukan di lingkungan Benteng Liya. Buah tersebut kemudian dipadukan dengan bahan lokal lainnya dan diperkenalkan sebagai minuman selamat datang khas Liya Togo.

Nama sampalu sendiri membuat minuman ini mudah diingat karena langsung terhubung dengan bahan lokalnya.

Karakter rasa asam segar membuatnya cocok diminum setelah berjalan mengelilingi kawasan benteng, terutama dalam cuaca tropis Pulau Wangi-Wangi.

Ada hal menarik di sini: lingkungan benteng ternyata tidak hanya menghasilkan cerita sejarah. Vegetasi di sekitarnya juga ikut masuk ke pengalaman wisata melalui minuman.

Jadi, setelah berkeliling Benteng Keraton Liya, mencari segelas Jus Sampalu terasa seperti kelanjutan alami dari perjalanan tersebut.

6. Saraba, Teh Kelor, dan Madu Hutan Melengkapi Pilihan

Kuliner Liya Togo juga mulai berkembang di luar makanan yang selama ini paling dikenal.

Penelitian tahun 2025 mengenai agrowisata pesisir di desa ini mencatat pengembangan saraba, teh kelor, dan madu hutan bersama kegiatan pengolahan kasoami serta produk pertanian lainnya.

Saraba sendiri cocok untuk pencinta minuman hangat, sedangkan teh kelor menawarkan pengalaman berbeda dari minuman teh biasa. Madu hutan dapat menjadi produk yang menarik untuk dikenali sekaligus dibawa sebagai hasil lokal.

Kehadiran produk tersebut menunjukkan bahwa wisata kuliner Liya terus berkembang.

Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada makanan pokok dan hasil laut, sekarang bahan dari kebun dan lingkungan daratan juga mulai memperoleh nilai tambah.

Ini menjadi peluang besar bagi ekonomi rumah tangga. Wisatawan tidak harus membeli suvenir berbentuk benda; makanan, minuman, dan produk lokal juga bisa menjadi oleh-oleh yang membawa cerita desa.

Kuliner Liya Togo Paling Nikmat Jika Dinikmati Bersama Ceritanya

Saat berada di Liya Togo, jangan memperlakukan wisata kuliner seperti sekadar membuat checklist makanan.

Cobalah bertanya kepada warga bagaimana kasoami dibuat, mengapa Salamu cocok dimakan bersamanya, atau kapan Liwo biasanya disajikan. Informasi seperti itu membuat makanan terasa jauh lebih bermakna.

Profil Jadesta menunjukkan Desa Wisata Liya Togo memang memiliki fasilitas kuliner dan tempat makan sekaligus mencatat Salamu, Liwo, serta Jus Sampalu sebagai produk desa. Jadi pengalaman makan bisa menjadi bagian yang menyatu dengan kunjungan budaya.

Jika memungkinkan, carilah makanan yang dibuat langsung oleh warga atau UMKM lokal. Selain mendapatkan cita rasa yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari desa, uang yang dikeluarkan juga lebih berpeluang memberi manfaat langsung kepada pelaku lokal.

Dan satu hal lagi: jangan terburu-buru.

Makan setelah berjalan mengitari benteng, lalu duduk sambil berbincang dengan pengunjungn lain atau warga setempat mungkin justru menjadi salah satu kenangan terbaik dari Liya Togo.

Kuliner Liya Togo yang wajib dicoba memperlihatkan kekayaan sebuah desa yang hidup di antara kebun dan laut.

Kasoami menghadirkan singkong sebagai pangan penting, Salamu membawa cita rasa ikan pari, Kaindolu memanfaatkan kerang, sedangkan Liwo menunjukkan bagaimana makanan digunakan untuk menghormati tamu.

Jus Sampalu melengkapinya dengan rasa segar dari buah asam yang tumbuh di sekitar Benteng Liya. Jadi, jangan hanya datang ke Liya Togo untuk memotret benteng dan menyaksikan budayanya. Sisihkan waktu untuk duduk dan makan bersama.

Cobalah kasoami dengan Salamu, cari Kaindolu jika tersedia, rasakan Jus Sampalu, dan kalau berkesempatan menikmati Liwo, pahami pula tradisi di balik penyajiannya.

Kadang cara paling mudah mengenal sebuah kampung memang dimulai dari satu piring makanan.

FAQ

1. Apa makanan khas Liya Togo yang paling wajib dicoba?

Kasoami dan Salamu merupakan pilihan yang sangat menarik. Kasoami berbahan singkong, sedangkan Salamu dibuat dari ikan pari dengan kelapa goreng serta bumbu buah belimbing dan biasa disantap bersama soami.

2. Apa itu Salamu Liya Togo?

Salamu adalah lauk berbahan ikan pari yang disuir-suir dan dimasak dengan kelapa goreng serta buah belimbing. Produk ini tercatat secara resmi sebagai salah satu kuliner Desa Wisata Liya Togo.

3. Apa itu Liwo?

Liwo adalah penyajian aneka makanan daerah dan camilan dalam sebuah talam yang ditutup Katubhangko. Tradisi ini biasa digunakan saat menjamu tamu kehormatan, kegiatan adat, dan Lebaran.

4. Apa itu Kaindolu?

Kaindolu merupakan sate kerang yang disebut Indonesia Travel sebagai salah satu sajian di Desa Liya Togo. Hidangan ini memperlihatkan kuatnya pengaruh hasil laut dalam kuliner lokal.

5. Apa minuman khas yang bisa dicoba di Liya Togo?

Salah satunya adalah Jus Sampalu, minuman berbahan buah asam yang banyak tumbuh di lingkungan Benteng Liya dan diperkenalkan sebagai minuman selamat datang khas desa.