Kalau mendengar nama Wakatobi, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan laut biru, terumbu karang, dan aktivitas diving.
Namun, di Pulau Wangi-Wangi ada sisi lain Wakatobi yang tidak kalah menarik untuk ditelusuri, yaitu jejak kerajaan, penyebaran Islam, benteng tua, dan kehidupan masyarakat adat.
Semua cerita tersebut bisa ditemukan di Liya Togo, sebuah desa di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan.
Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat warisan budaya penting di Wakatobi karena masih memiliki Benteng Liya, masjid tua, makam tokoh adat, baruga, hingga tradisi masyarakat yang diwariskan lintas generasi.
Indonesia.travel bahkan menyebut Liya Togo sebagai desa budaya yang kaya bangunan bersejarah dan tradisi serta pernah masuk 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021.
Menariknya, sejarah Desa Liya Togo di Wakatobi bukan sekadar cerita tentang sebuah permukiman tua. Liya merupakan bagian dari perjalanan panjang masyarakat Wangi-Wangi dan memiliki hubungan historis dengan sistem pemerintahan Kesultanan Buton.
Liya Togo dan Jejak Peradaban Lama di Wangi-Wangi
Liya Togo terletak di bagian selatan Pulau Wangi-Wangi, salah satu dari empat pulau utama Wakatobi.
Desa ini berada dalam wilayah yang secara historis dikenal sebagai Kadie Liya, sebuah wilayah adat yang sudah terbentuk jauh sebelum sistem pemerintahan desa modern digunakan.
Dalam sistem Kesultanan Buton, wilayah kekuasaan dibagi ke dalam beberapa tingkatan. Salah satunya adalah kadie, yaitu wilayah atau distrik yang berada di bawah pemerintahan pusat Kesultanan Buton di Wolio.
Pemimpin kadie dikenal dengan sebutan Meantu’u atau Mentu’u. Kajian mengenai masyarakat pesisir Wakatobi juga mencatat Kadie Liya sebagai salah satu masyarakat adat pemilik wilayah kelola laut di Wangi-Wangi.
Karena itu, saat membahas Liya Togo, kita sebenarnya sedang melihat sisa sebuah sistem sosial dan politik masa lalu.
Benteng, masjid, makam, hingga ruang pertemuan adat memberi gambaran bahwa kawasan ini pernah memiliki struktur kehidupan yang cukup terorganisir.
Hubungan Liya dengan Kesultanan Buton
Sejarah Liya tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Kesultanan Buton yang berpusat di Pulau Buton. Pada masa tersebut, wilayah kepulauan di sekitar Buton memiliki hubungan politik, ekonomi, pertahanan, dan budaya dengan pusat kesultanan.
Kadie Liya menjadi salah satu wilayah penting di Pulau Wangi-Wangi. Kepala adat atau Meantu’u memiliki peran dalam mengatur kehidupan masyarakat, sementara perangkat adat menjalankan berbagai fungsi sosial sesuai aturan yang dikenal dalam kelembagaan sara.
Hubungan tersebut juga terlihat dari peninggalan yang tersisa sampai sekarang. Benteng Keraton Liya, Masjid Mubarok, makam tokoh adat, dan baruga memperlihatkan adanya pusat pemerintahan serta kehidupan keagamaan dalam satu kawasan.
Menariknya, tidak semua detail awal sejarah Liya memiliki catatan tertulis yang seragam. Karena itu, sebagian sejarhnya masih diwariskan melalui tradisi lisan masyarakat dan perlu dipahami berdampingan dengan penelitian sejarah serta bukti arkeologis.
Benteng Liya, Saksi Pertahanan dan Pemerintahan Masa Lalu
Bangunan yang paling kuat menggambarkan sejarah Desa Liya Togo adalah Benteng Liya atau Benteng Keraton Liya.
Benteng ini dibangun dari susunan batu dan memiliki beberapa lapisan pertahanan serta sejumlah lawa atau pintu.
Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara menyebut Benteng Liya memiliki empat lapis dan 12 lawa yang dahulu menjadi akses masyarakat kerajaan untuk berhubungan dengan lingkungan di sekitarnya.
Mengenai usia benteng, sumber yang tersedia belum sepenuhnya memberikan angka yang sama.
ANTARA menyebut benteng tersebut didirikan sekitar tahun 1200 Masehi, sementara sejumlah sumber lain menghubungkan perkembangan kompleks benteng dengan periode Kesultanan Buton dan penyebaran Islam beberapa abad kemudian.
Perbedaan ini justru menunjukkan bahwa sejarah Liya masih memiliki ruang penelitian yang menarik. Yang jelas, benteng tersebut bukan hanya bangunan pertahanan.
Di bagian dalamnya terdapat pusat keagamaan, makam, ruang pertemuan, serta area yang berkaitan dengan pemerintahan adat.
Berjalan di kawasan ini membuat pengunjung bisa membaca sejarah melalui bentuk ruang dan arsitetur yang masih tersisa.
Masjid Mubarok dan Jejak Penyebaran Islam
Salah satu bagian penting dari Benteng Liya adalah Masjid Mubarok, yang juga dikenal sebagai Masjid Keraton Liya.
Sejumlah sumber menyebut masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1545–1546. Keberadaannya menjadi bukti penting perkembangan Islam di Pulau Wangi-Wangi dan hubungan Liya dengan jaringan politik serta keagamaan Kesultanan Buton pada abad ke-16.
Masjid ini bukan sekadar bangunan tempat beribadah. Dalam konteks sebuah kawasan kerajaan atau kadie, masjid juga menjadi bagian dari pusat kehidupan sosial masyarakat.
Lokasinya yang berada di dalam kompleks benteng memperlihatkan bagaimana pertahanan, pemerintahan, adat, dan agama berada dalam ruang yang saling berhubungan.
Pola semacam ini membantu kita memahami bahwa kehidupan masyarakt Liya pada masa lalu tidak terbagi secara kaku antara urusan politik dan sosial.
Djilabu dan Perkembangan Kepemimpinan Adat Liya
Nama penting lain yang sering muncul ketika membicarakan sejarah Liya adalah Djilabu.
Di kawasan Benteng Liya terdapat makam Djilabu yang dikenal dalam sumber pariwisata sebagai Meantu’u pertama Liya sekaligus tokoh penyiar Islam di Pulau Wangi-Wangi dan wilayah sekitarnya.
Keberadaan makam tersebut membuat kawasan Liya tidak hanya mempunyai nilai arsitektural, tetapi juga nilai spiritual dan historis. Tokoh-tokoh seperti Djilabu menjadi penghubung antara sejarah pemerintahan lokal dengan perkembangan agama di masyarakat.
Bagi generasi sekarang, makam dan situs bersejarah semacam ini juga berfungsi sebagai pengingat bahwa perkembangan suatu desa tidak terjadi secara instan.
Ada perjalanan panjang yang melibatkan pemimpin adat, ulama, masyarakat, serta perubahan politik di kawasan Sulawesi Tenggara.
Baruga, Lawa, dan Tata Kehidupan Masyarakat Liya
Tidak jauh dari masjid dan area inti benteng terdapat baruga, yaitu ruang pertemuan masyarakat.
Dalam tradisi Liya, baruga digunakan untuk kegiatan pertemuan dan musywarah. Keberadaannya memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki ruang khusus untuk membicarakan persoalan bersama dan menjalankan proses pengambilan keputusan.
Sementara itu, lawa atau pintu benteng tidak hanya berfungsi sebagai akses keluar masuk. Susunan benteng dan pintu memperlihatkan pembagian ruang yang memiliki hubungan dengan sistem pertahanan serta aktivitas warga.
Inilah yang membuat Benteng Liya menarik untuk dipahami secara utuh.
Pengunjung sebaiknya tidak hanya melihat tembok batu sebagai objek foto, tetapi juga mencoba membayangkan bagaimana kawasan itu dulu menjadi ruang hidup: orang beribadah di masjid, pemimpin adat bermusyawarah, warga keluar masuk melalui lawa, dan masyarakat menjalankan kehidupan sehari-hari di sekitar benteng.
Tradisi Adat yang Membuat Sejarah Tetap Hidup
Warisan Liya tidak berhenti pada benda-benda bersejarah. Tradisi masyarakat masih menjadi bagian penting dari identitas kawasan ini.
Desa Liya Togo dikenal memiliki berbagai tradisi dan kesenian seperti Honari Mosega serta sejumlah upacara adat.
Di wilayah Kadie Liya juga dikenal tradisi Lalo’a yang berkaitan dengan musim kedatangan ikan baronang di kawasan pesisir. Tradisi tersebut memperlihatkan hubungan erat masyarakat dengan laut dan sumber daya alam di sekelilingnya.
Inilah perbedaan antara melihat Liya Togo sebagai situs sejarah dan melihatnya sebagai desa adat yang hidup. Budaya tidak hanya disimpan dalam museum atau bangunan lama, tetapi tetap hadir dalam aktivitas sosial masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Wakatobi juga telah memberikan pengakuan terhadap Masyarakat Hukum Adat Kadie Liya melalui Peraturan Bupati Wakatobi Nomor 49 Tahun 2017.
Pengakuan ini menjadi bagian penting dalam menjaga kelembagaan dan hak masyarakat adat di tengah perubahan zaman.
Dari Desa Bersejarah Menjadi Destinasi Wisata Budaya
Saat ini Liya Togo semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya Wakatobi. Desa ini bahkan masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia pada 2021.
Perkembangan pariwisata memberi kesempatan baru bagi warga untuk memperkenalkan sejarah, kuliner, kesenian, tradisonal lokal, dan kehidupan sehari-hari kepada pengunjung.
Namun, tantangannya adalah memastikan aktivitas wisata tidak menghilangkan makna asli dari situs dan tradisi tersebut.
Bagi wisatawan, cara terbaik menikmati Liya Togo adalah datang dengan rasa ingin tahu. Dengarkan cerita dari masyarakat atau pemandu lokal, pahami fungsi setiap bangunan, dan hormati aturan ketika memasuki kawasan adat maupun tempat ibadah.
Dengan cara tersebut, kunjungan ke Liya Togo tidak hanya menghasilkan foto perjalanan, tetapi juga pemahaman mengenai perjalanan sejarah Wakatobi yang sering luput di balik popularitas wisata bawah lautnya.
Sejarah Desa Liya Togo di Wakatobi memperlihatkan bahwa Wakatobi memiliki warisan daratan yang sama menariknya dengan kekayaan lautnya.
Jejak Kadie Liya, hubungan dengan Kesultanan Buton, Benteng Liya, Masjid Mubarok, makam Djilabu, baruga, serta tradisi masyarakat menjadi potongan penting untuk memahami perjalanan panjang Pulau Wangi-Wangi.
Lebih dari sekadar desa wisata, Liya Togo adalah ruang tempat sejarah, Islam, adat, dan kehidupan masyarakat bertemu hingga sekarang.
Jika berencana berkunjung ke Wakatobi, jangan hanya menyiapkan waktu untuk snorkeling atau diving.
Sisihkan satu perjalanan menuju Liya Togo, berjalanlah di antara benteng tuanya, dengarkan cerita masyarakat setempat, dan rasakan sisi Wakatobi yang mungkin belum banyak dikenal wisatawan.
FAQ
1. Di mana Desa Liya Togo berada?
Desa Liya Togo berada di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, di bagian selatan Pulau Wangi-Wangi.
2. Apa peninggalan sejarah paling terkenal di Liya Togo?
Peninggalan yang paling dikenal adalah Benteng Keraton Liya. Di dalam dan sekitar kompleksnya terdapat Masjid Mubarok, makam tokoh adat, baruga, serta sejumlah lawa atau pintu benteng.
3. Kapan Masjid Mubarok Liya dibangun?
Sejumlah sumber menyebut Masjid Mubarok atau Masjid Keraton Liya dibangun sekitar tahun 1545–1546 dan menjadi salah satu jejak penting perkembangan Islam di Wangi-Wangi.
4. Apa hubungan Liya Togo dengan Kesultanan Buton?
Secara historis, Liya merupakan bagian dari struktur wilayah adat yang berhubungan dengan Kesultanan Buton. Kadie merupakan salah satu bentuk wilayah pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Meantu’u.
5. Apakah Liya Togo masih mempertahankan tradisi adat?
Ya. Tradisi dan kelembagaan adat masih memiliki peran dalam identitas masyarakat Liya. Masyarakat Hukum Adat Kadie Liya juga memperoleh pengakuan pemerintah daerah melalui Perbup Wakatobi Nomor 49 Tahun 2017.
