Wangi-Wangi biasanya menjadi pintu pertama wisatawan sebelum menjelajahi keindahan laut Wakatobi. Namun, pulau ini sebenarnya menyimpan pengalaman yang sama menariknya di daratan.
Salah satunya adalah Benteng Liya, wisata sejarah di Wangi-Wangi yang berada di Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan.
Benteng ini berbeda dari benteng kolonial yang banyak ditemukan di kota-kota Indonesia. Kawasannya merupakan lanskap permukiman bersejarah yang berhubungan dengan Kerajaan dan Kesultanan Buton.
Di dalamnya masih terdapat Masjid Mubarok, baruga, makam, bekas meriam, gerbang atau lawa, hingga berbagai tinggalan arkeologi.
Penelitian Universitas Halu Oleo juga mengidentifikasi kawasan inti Benteng Liya sebagai pusat pertahanan, permukiman, dan pemerintahan pada masa lalu.
Lebih menarik lagi, Liya Togo bukan kawasan sejarah yang sepenuhnya “mati”. Masyarakat masih tinggal di lingkungan desa, mempertahankan adat, menghasilkan kerajinan, dan menyelenggarakan berbagai tradisi.
Jadi, berkunjung ke Benteng Liya bukan cuma melihat tumpukan batu tua, tetapi memasuki ruang sejarah yang masih terhubung dengan kehidupan masyarakat Wakatobi hari ini.
Di Mana Lokasi Benteng Liya?
Benteng Liya berada di Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Desa ini berada di Pulau Wangi-Wangi dan menjadi salah satu destinasi budaya yang cukup mudah dijangkau dari pusat aktivitas utama pulau.
Indonesia Travel menyebut Liya Togo berjarak sekitar 15 menit dari pusat kota Kabupaten Wakatobi, meskipun waktu perjalanan tentu bergantung pada titik keberangkatan dan kondisi perjalanan. Akses jalan menuju desa juga tercatat dalam kondisi baik.
Tetapi kalau ingin menikmati suasananya lebih santai, mengalokasikan setengah hari terasa jauh lebih masuk akal.
Jejak Kerajaan dan Kesultanan Buton di Benteng Liya
Sejarah Benteng Liya tidak dapat dilepaskan dari jaringan politik Buton yang dahulu mencakup berbagai wilayah kepulauan di Sulawesi Tenggara.
Penelitian arkeologi yang diterbitkan dalam Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi mengkaji Benteng Liya dalam konteks Kerajaan Buton.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lapisan utama benteng dahulu menjadi pusat pertahanan sekaligus pusat pemerintahan dan permukiman.
Sejumlah sumber pariwisata menyebut benteng ini sebagai peninggalan Kerajaan Buton. Namun, informasi mengenai tahun persis pembangunan Benteng Liya masih berbeda-beda dalam berbagai publikasi.
Karena itu, lebih tepat melihatnya sebagai kompleks pertahanan dan pemerintahan tua yang berkembang dalam perjalanan panjang Liya dan hubungannya dengan Buton, daripada memaksakan satu tahun pembangunan yang belum benar-benar seragam dalam sumber.
Jejak sejarah tersebut terasa semakin kuat karena benteng tidak berdiri sendirian.
Di dalamnya terdapat bangunan agama, makam tokoh, tempat musyawarah, serta sisa fasilitas pertahanan. Semua unsur tersebut memberikan gambaran bahwa kawasan ini pernah berfungsi layaknya pusat kehidupan masyarakat.
Benteng Berlapis dengan Sistem Pertahanan yang Menarik
Salah satu hal yang paling menarik dari Benteng Liya adalah pola pertahanannya.
Kajian arkeologi Universitas Halu Oleo membagi situs menjadi tiga lapisan utama. Lapisan pertama merupakan pusat permukiman, pemerintahan, dan pertahanan utama.
Lapisan kedua berupa kawasan pertahanan yang dikelilingi struktur batu karang, sedangkan lapisan ketiga memanfaatkan bentang alam dan titik-titik tertentu sebagai pertahanan serta tempat pengintaian.
Indonesia Travel juga menggambarkan Benteng Liya sebagai benteng tiga lapis dengan luas sekitar 52 hektare.
Menariknya, sumber Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara menggunakan deskripsi empat lapis dan 12 lawa. Sementara penelitian arkeologi menginventarisasi 14 nama lawa atau pintu.
Perbedaan tersebut kemungkinan muncul karena metode pendataan dan batas struktur yang digunakan tidak sama.
Bagi wisatawan, angka tersebut bukan hal terpenting. Yang lebih menarik adalah mencoba membayangkan bagaimana lapisan batu, pintu, dan bentang alam bekerja sebagai sebuah sistem perlindungan.
Lawa, Baluara, dan Peninggalan Pertahanan
Saat berjalan mengelilingi kawasan, perhatikan bagian-bagian benteng yang mungkin terlihat sederhana.
Dalam istilah setempat terdapat lawa, yaitu pintu atau akses benteng. Penelitian arkeologi juga menemukan baluara atau bastion dan bhadili berupa meriam kuno.
Keberadaan unsur tersebut menunjukkan bahwa Benteng Liya dahulu memiliki fungsi pertahanan nyata.
Selain itu, peneliti mengidentifikasi tondo atau tembok benteng, kamali yang dikaitkan dengan rumah raja, makam raja, Watu Sahuu, lubang batu atau liyang, serta lesung batu.
Dengan daftar tinggalan sebanyak itu, cara terbaik menikmati benteng adalah berjalan perlahan bersama orang yang memahami situs.
Tanpa penjelasan, sebuah susunan batu mungkin terlihat biasa saja. Dengan cerita yang tepat, tempat tersebut dapat berubah menjadi petunjuk mengenai bagaimana manusia hidup, menjaga wilayah, beribadah, dan membangun pemerintahan ratusan tahun lalu.
Masjid Mubarok, Jejak Islam di Jantung Benteng
Salah satu titik yang sebaiknya tidak dilewatkan adalah Masjid Mubarok atau Masjid Mubarak.
Masjid ini berada di kawasan inti Benteng Liya. Indonesia Travel dan dokumentasi pariwisata lainnya menghubungkan keberadaannya dengan tahun 1546 dan perkembangan Islam di lingkungan Liya.
Posisi masjid di dalam benteng memberi gambaran menarik mengenai tata kehidupan masyarakat masa lalu.
Pertahanan, pemerintahan, permukiman, dan agama tidak terpisah menjadi kawasan yang berjauhan. Semuanya hadir di dalam satu lanskap.
Bagi wisatawan, bagian ini juga membutuhkan sikap yang berbeda dari mengunjungi spot foto biasa. Masjid merupakan ruang religius, jadi gunakan pakaian yang sopan dan perhatikan aturan masyarakat setempat.
Hal sederhana seperti menurunkan suara dan meminta izin sebelum memotret membuat kunjungan terasa jauh lebih menghargai pemilik warisan tersebut.
Baruga dan Makam Tokoh Liya
Tidak jauh dari bagian penting kawasan benteng terdapat baruga, bangunan yang berkaitan dengan kegiatan berkumpul dan musyawarah masyarakat.
Dokumentasi mengenai Liya Togo menggambarkan baruga sebagai tempat masyarakat melakukan musyawarah. Keberadaannya menjadi petunjuk bahwa benteng tidak hanya punya fungsi militer, tetapi juga menjadi pusat aktivitas pemerintahan dan sosial.
Di kawasan tersebut juga terdapat sejumlah makam.
Salah satu yang banyak diperkenalkan kepada wisatawan adalah makam Djilabu, yang dalam informasi lokal disebut sebagai Meantu’u atau kepala adat Liya pertama sekaligus tokoh yang berkaitan dengan penyebaran Islam di Wangi-Wangi.
Penelitian arkeologi sendiri memang mencatat keberadaan makam raja sebagai salah satu jenis tinggalan di Situs Benteng Liya.
Makam-makam tersebut mengingatkan bahwa wisata sejarah di sini juga memiliki dimensi spiritual. Datanglah sebagai tamu, bukan sekadar pemburu konten.
Benteng yang Masih Berdampingan dengan Kehidupan Masyarakat
Salah satu alasan Benteng Liya sebagai wisata sejarah di Wangi-Wangi terasa istimewa adalah karena kawasan tersebut tidak sepenuhnya terpisah dari kehidupan modern.
Indonesia Travel menyebut masyarakat masih hidup di kawasan lapisan benteng dengan adat budaya yang kuat. Liya Togo sendiri tercatat sebagai Desa Wisata yang masuk 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021.
Pengunjung dapat menghubungkan perjalanan sejarah dengan aktivitas budaya lain.
Desa ini memiliki Honari Mosega, Posepaa, Honari Wowine, dan Hewale-walea sebagai atraksi budaya yang terdaftar di Jadesta. Ada pula aktivitas Tenun Homoru, kuliner lokal, homestay, dan kehidupan masyarakat pesisir.
Jadi jangan heran jika perjalanan ke sebuah benteng akhirnya berubah menjadi pengalaman mengenal desa.
Justru hubungan antara bangunan lama dan masyarakat sekarang itulah yang membuat Liya Togo punya karakter kuat.
Waktu dan Cara Terbaik Menjelajahi Benteng Liya
Untuk menikmati situs ini, hindari datang dengan jadwal yang terlalu sempit.
Berjalan kaki adalah cara terbaik melihat susunan benteng, gerbang, masjid, makam, dan baruga. Gunakan alas kaki yang nyaman karena karakter kawasan berbeda dari objek wisata modern dengan jalan yang sepenuhnya rata.
Kalau memungkinkan, gunakan pemandu lokal. Jadesta saat ini mencatat Desa Wisata Liya Togo mempunyai tujuh pemandu yang telah mengikuti pelatihan kepemanduan dan bahasa Inggris.
Pemandu membantu menjelaskan bagian situs yang mudah dilewatkan sekaligus membedakan cerita lisan, fungsi bangunan, dan fakta arkeologis.
Pagi atau menjelang sore biasanya terasa nyaman untuk eksplorasi karena matahari tidak terlalu menyengat. Namun kondisi cuaca tetap perlu dipertimbangkan ketika berkunjung.
Dan yang paling penting: jangan memanjat dinding, mengambil batu, memindahkan benda, atau menyentuh bagian situs secara sembarangan. Foto memang penting, tetapi menjaga warisan jauh lebih penting.
Kombinasikan Benteng Liya dengan Wisata Desa
Setelah menyelesaikan eksplorasi benteng, jangan langsung kembali. Liya Togo menawarkan kesempatan mengenal Wakatobi melalui budaya dan kehidupan lokal.
Pengunjung dapat mencari aktivitas Tenun Homoru, mencicipi kuliner desa, atau menikmati suasana kampung. Desa ini juga memiliki homestay bagi wisatawan yang ingin tinggal lebih lama.
Kalau sedang ada pertunjukan budaya, pengalaman bisa semakin lengkap.
Honari Mosega membawa gambaran keberanian prajurit, sedangkan Posepaa merupakan permainan tradisional yang dikaitkan dengan ketangkasan masyarakat Liya.
Tradisi semacam itu memberi konteks tambahan pada benteng sebagai bekas ruang pertahanan dan pemerintahan.
Dengan cara ini, perjalanan tidak terasa seperti mengunjungi monumen terisolasi.
Benteng, makanan, kerajinan, tradisi, dan penduduknya membentuk satu cerita besar tentang Liya.
Mengapa Benteng Liya Layak Masuk Itinerary Wakatobi?
Alasannya sederhana: Wakatobi jauh lebih luas daripada wisata bawah laut.
Benteng Liya menawarkan sesuatu yang tidak ditemukan ketika snorkeling atau diving, yaitu kesempatan memahami manusia yang telah membentuk kehidupan di kepulauan tersebut selama beberapa generasi.
Secara arkeologis, situs ini menyimpan tembok benteng, gerbang, bastion, masjid, baruga, meriam lama, kamali, makam, dan berbagai tinggalan lain.
Pada saat yang sama, Liya Togo masih mempertahankan kehidupan budaya dan telah dikembangkan sebagai desa wisata.
Kombinasi itulah yang sulit dicari.
Anda tidak hanya melihat sejarah dari balik kaca museum. Anda berjalan langsung di ruang tempat sejarah itu berkembang sambil bertemu masyarakat yang masih mewarisi kebudayaannya.
Untuk pencinta sejarah, fotografi, budaya, atau sekadar wisatawan yang ingin melihat sisi Wakatobi yang berbeda, tempat ini layak mendapat waktu khusus.
Benteng Liya, wisata sejarah di Wangi-Wangi, menawarkan pengalaman yang jauh lebih dalam daripada sekadar melihat tembok batu tua.
Kawasan ini menyimpan jejak pertahanan dan pemerintahan Liya, Masjid Mubarok, baruga, makam, lawa, bastion, meriam kuno, serta berbagai tinggalan arkeologis yang menunjukkan kompleksnya kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Yang membuatnya semakin menarik adalah Liya Togo masih menjadi desa yang hidup dengan tradisi dan aktifitas masyarakatnya.
Jika berkunjung ke Pulau Wangi-Wangi, sisihkan setidaknya beberapa jam untuk menjelajahi Benteng Liya. Datang bersama pemandu lokal, dengarkan sejarhnya, hormati masjid dan makam, lalu lanjutkan dengan menikmati kuliner atau kerajinan desa.
Dengan begitu, perjalanan ke Wakatobi tidak hanya membawa cerita tentang laut, tetapi juga tentang manusia dan peradaban yang tumbuh di tepianya.
FAQ
1. Di mana lokasi Benteng Liya?
Benteng Liya berada di Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Desa dapat dijangkau melalui perjalanan darat setelah tiba di Pulau Wangi-Wangi.
2. Apa fungsi Benteng Liya pada masa lalu?
Kajian arkeologi menunjukkan lapisan utama benteng berfungsi sebagai pusat pertahanan, permukiman, pemerintahan, dan aktivitas pendukung Kerajaan Liya dalam konteks sejarah Buton.
3. Berapa luas Benteng Liya?
Indonesia Travel menyebut kawasan Benteng Liya mempunyai luas sekitar 52 hektare dan terdiri atas tiga lapisan.
4. Apa saja yang bisa dilihat di Benteng Liya?
Pengunjung dapat mengenal tembok benteng, lawa atau gerbang, Masjid Mubarok, baruga, makam, bastion, meriam kuno, kamali, serta berbagai tinggalan arkeologis lainnya.
5. Apakah tersedia pemandu wisata di Liya Togo?
Ya. Profil Jadesta saat ini mencatat tujuh pemandu wisata yang telah mengikuti pelatihan kepemanduan dan bahasa Inggris.
