Mengenal Upacara Karia’a di Wakatobi: Tradisi Pendewasaan Penuh Makna

Wakatobi punya banyak cara untuk membuat pengunjung jatuh cinta. Lautnya memang luar biasa, tetapi kehidupan budaya masyarakat di daratan menyimpan pengalaman yang tidak kalah menarik.

Salah satu tradisi yang masih dikenal hingga sekarang adalah upacara Karia’a di Wakatobi. Sekilas, Karia’a sering disebut sebagai pesta adat sunatan. Namun kalau melihat prosesnya lebih jauh, tradisi ini bukan hanya tentang khitan.

Ada nasihat dari tokoh agama dan adat, ritual bersuci, pakaian tradisional, pertemuan keluarga, gotong royong, hingga arak-arakan peserta mengelilingi kampung.

Penelitian mengenai Karia’a di Desa Sombu, Wangi-Wangi, menemukan unsur pendidikan Islam seperti bersuci, penguatan akidah, pemberian nasihat, dan pembentukan akhlak di dalam rangkaian acaranya.

Bentuk Karia’a juga dapat berbeda antara komunitas di Wakatobi. Di Wangi-Wangi terdapat tradisi yang melibatkan anak laki-laki dan perempuan, sementara dokumentasi Kaledupa lebih banyak menggambarkannya sebagai ritual pendewasaan anak laki-laki.

Justru variasi itulah yang membuat Karia’a menarik untuk dikenal.

Apa Itu Upacara Karia’a?

Secara umum, Karia’a merupakan upacara adat yang berkaitan dengan khitan dan peralihan seorang anak menuju tahap kehidupan berikutnya. Ritual ini berkembang dalam masyarakat Wakatobi dengan pengaruh kuat adat setempat dan ajaran Islam.

Kajian tahun 2024 di Desa Sombu menyebut Karia’a sebagai tradisi turun-temurun masyarakat Wakatobi yang mengandung nilai pendidikan Islam.

Prosesnya tidak berhenti pada tindakan khitan, tetapi mencakup sejumlah tahapan yang memberi anak pemahaman tentang bersuci, akidah, akhlak, dan hubungan sosial.

Itulah sebabnya Karia’a lebih tepat dipahami sebagai ritual sosial dan keagamaan, bukan sekadar pesta keluarga.

Anak yang mengikuti prosesi diperkenalkan pada tanggung jawab baru, sementara keluarga dan masyarakat ikut menyaksikan proses tersebut.

Dalam konteks tradisonal, momentum seperti ini menjadi cara komunitas menyampaikan bahwa seorang anak sedang tumbuh dan perlu mulai memahami aturan agama, adat, serta tata kehidupan bersama.

Karia’a Tidak Sama Persis di Setiap Pulau

Satu hal penting ketika membicarakan Karia’a adalah menghindari anggapan bahwa seluruh Wakatobi menjalankannya dengan bentuk yang benar-benar sama.

Di Wangi-Wangi, dokumentasi Karia’a Lambe mencatat keterlibatan anak laki-laki dan perempuan. Anak perempuan mengenakan pakaian adat dan diarak menggunakan tandu, sedangkan peserta laki-laki berjalan mengikuti pemangku adat.

Sementara itu, tradisi Karia’a yang banyak dipromosikan dari Kaledupa sering dijelaskan sebagai ritual pendewasaan anak laki-laki melalui khitan dan arak-arakan kampung.

Perbedaan tersebut tidak harus dianggap bertentangan. Wakatobi terdiri dari beberapa pulau dan komunitas adat dengan istilah, tahapan, serta praktik yang dapat berkembang berbeda.

Karena itu, jika datang langsung untuk menyaksikan Karia’a, informasi dari tokoh adat setempat menjadi penting. Mereka dapat menjelaskan bentuk prosesi sesuai kampung tempat acara dilaksanakan.

Persiapan Karia’a Dimulai Jauh Sebelum Arak-Arakan

Bagian yang paling sering muncul di foto memang arak-arakan. Padahal, penyelenggaran Karia’a sudah dimulai jauh sebelum peserta berjalan mengelilingi kampung.

Dalam dokumentasi Karia’a di Wangi-Wangi, keluarga penyelenggara terlebih dahulu berkomunikasi dengan perangkat adat dan agama. Ada pertemuan yang melibatkan keluarga peserta untuk menentukan waktu, kewajiban adat, serta berbagai kebutuhan acara.

Keterlibatan banyak orang memperlihatkan bahwa Karia’a bukan kegiatan individu.

Keluarga besar, pemangku adat, tokoh agama, serta masyarakat memiliki peran masing-masing. Di sinilah semangat gotong royong terasa kuat.

Persiapan pakaian, makanan, tempat berkumpul, perlengkapan prosesi, dan kebutuhan peserta memerlukan kerja bersama. Pada acara besar, jumlah peserta bahkan bisa mencapai puluhan atau lebih sehingga koordinasinya tentu tidak sederhana.

Justru dari proses inilah Karia’a menjadi ruang silaturahmi.

Hesofuia dan Nilai Bersuci dalam Karia’a

Salah satu tahapan yang tercatat dalam penelitian adalah hesofuia atau hesofuikaria, yaitu prosesi yang dikaitkan dengan bersuci sebelum peserta melanjutkan rangkaian Karia’a.

Penelitian mengenai nilai dakwah dalam adat Karia’a menyebut anak laki-laki maupun perempuan menjalani proses pembersihan atau pemandian sebelum menggunakan pakaian adat. Tahapan tersebut kemudian dikaitkan dengan pesan tentang kebersihan dan penyucian diri.

Kajian lain di Desa Sombu juga menghubungkan hesofuia dengan konsep thaharah atau bersuci dalam pendidikan Islam.

Jadi air di dalam prosesi bukan sekadar pelengkap.

Ia membawa pesan bahwa memasuki fase kehidupan baru seharusnya disertai kesiapan secara lahir dan batin.

Nilai seperti inilah yang membuat Karia’a menarik untuk dipahami dari sisi budaya. Sebuah tindakan sederhana dapat mempunyai lapisan makna sosial dan spiritual.

Ndou-Ndou, Saat Anak Mendapat Bekal Nasihat

Karia’a juga mempunyai sisi pendidikan yang cukup kuat.

Dalam penelitian tahun 2024 terdapat tahapan ndou-ndou, yaitu pemberian nasihat kepada anak-anak yang telah mengikuti rangkaian prosesi. Pesan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan nilai agama dan perilaku yang diharapkan setelah mereka bertambah dewasa.

Penelitian lain menyebut pesan dalam Karia’a antara lain berkaitan dengan hubungan kepada orang tua, sesama manusia, kejujuran, akidah, dan pemahaman mengenai perbuatan yang boleh maupun tidak boleh dilakukan.

Bagian ini mungkin tidak seatraktif arak-arakan untuk kamera, tetapi justru menjadi salah satu inti terpenting upacara.

Anak tidak hanya didandani dan dirayakan.

Mereka juga diberi pesan bahwa bertambahnya usia membawa tanggung jawab. Dalam masyarakat yang kuat dengan tradisi lisan, nasihat seperti ini menjadi salah satu cara pengetahuan diwariskan dari generasi tua kepada generasi muda.

Kansoda’a dan Arak-Arakan yang Meriah

Puncak Karia’a sering menjadi bagian paling meriah.

Dalam Karia’a Lambe di Wangi-Wangi, peserta perempuan dapat duduk di atas tandu yang dikenal sebagai kansoda’a atau konsoda’a. Mereka mengenakan pakaian adat dan diarak mengelilingi kampung, sementara peserta laki-laki berjalan dalam rombongan bersama pemangku adat.

Dokumentasi lain menjelaskan setiap usungan dapat membawa beberapa anak perempuan dan dipikul oleh sejumlah laki-laki dewasa. Di bagian depan rombongan terdapat perangkat adat, disusul peserta laki-laki, kemudian barisan tandu perempuan.

Arak-arakan bukan hanya dibuat agar acara terlihat ramai.

Salah satu maknanya adalah memperkenalkan kepada lingkungan sosial bahwa anak tersebut telah mengikuti Karia’a. Dengan kata lain, masyarakat ikut menjadi saksi atas perubahan status sosial peserta.

Suasana biasanya semakin hidup dengan pakaian adat, tabuhan musik, keluarga yang mengikuti perjalanan, dan warga yang berdiri di sepanjang rute.

Di sinilah unsur perayaan bertemu dengan identitas budaya.

Pakaian Adat Menjadi Bagian Penting Prosesi

Pakaian dalam Karia’a bukan sekadar kostum untuk mempercantik foto.

Peserta biasanya dirias dan mengenakan busana adat Wakatobi. Dalam prosesi Karia’a Lambe, pakaian tersebut terlihat menonjol terutama pada anak perempuan yang duduk di atas kansoda’a selama arak-arakan.

Busana memberikan tanda bahwa kegiatan tersebut bukan aktivitas sehari-hari.

Ada suasana khusus yang membedakan Karia’a dari pertemuan keluarga biasa. Warna pakaian, hiasan kepala, serta susunan rombongan ikut membangun simbol penghormatan terhadap peserta.

Bagi keluarga, kesempatan melihat anak mengenakan pakaian adat juga menghadirkan kebanggaan tersendiri.

Tidak heran jika arak-arakan Karia’a sering menjadi salah satu momen yang paling banyak didokumentasikan. Tetapi di balik keindahan visualnya tetap ada pesan yang lebih besar tentang identitas dan hubungan anak dengan komunitasnya.

Karia’a Menggabungkan Adat dan Nilai Islam

Salah satu karakter paling menonjol dari Karia’a adalah pertemuan antara adat Wakatobi dan nilai-nilai Islam.

Kajian di Kelurahan Waetuno menyebut tradisi ini sebagai medium untuk meneruskan pendidikan Islam melalui kombinasi ritual adat dan ajaran keagamaan. Nilai yang muncul antara lain akidah, akhlak, muamalah, kesehatan, dan kearifan lokal.

Di Desa Sombu, penelitian juga menemukan tahapan pengucapan dua kalimat syahadat serta pemberian nasihat kepada peserta.

Perpaduan tersebut tidak aneh jika melihat sejarah Wakatobi yang lama berhubungan dengan lingkungan kebudayaan Kesultanan Buton.

Dalam perjalanan waktu, agama tidak menghapus seluruh praktik adat. Sebaliknya, berbagai komunitas mengembangkan cara sendiri untuk mempertemukan keduanya.

Karia’a menjadi contoh bagaimana nilai keagamaan diterjemahkan melalui bentuk budaya yang mudah dikenali masyarkat setempat.

Gotong Royong dan Silaturahmi di Balik Pesta Karia’a

Kalau hanya melihat peserta utama, kita bisa melewatkan satu bagian penting: orang-orang yang membuat acara itu mungkin terlaksana.

Karia’a membutuhkan keterlibatan keluarga, tetangga, tokoh adat, tokoh agama, pembawa tandu, serta masyarakat yang membantu berbagai kebutuhan acara.

Penelitian mengenai nilai dakwah Karia’a secara khusus mencatat silaturahmi dan gotong royong sebagai nilai sosial yang muncul dari tradisi tersebut.

Karena itulah pesta adat juga menjadi kesempatan untuk berkumpul kembali.

Keluarga yang jarang bertemu dapat datang, tetangga membantu persiapan, dan masyarakat menyaksikan prosesi bersama-sama.

Dalam konteks ini, Karia’a tidak hanya membentuk anak yang sedang memasuki tahap baru kehidupan. Tradisi tersebut sekaligus memperkuat kebersmaan komunitas.

Boleh jadi inilah salah satu alasan mengapa ritual semacam ini mampu bertahan meskipun kehidupan masyarakat terus berubah.

Karia’a di Tengah Kehidupan Modern

Tradisi tidak pernah benar-benar berhenti berubah.

Pada masa lalu, berbagai tahapan Karia’a, termasuk proses khitan laki-laki, lebih banyak berlangsung melalui mekanisme tradisional.

Dokumentasi dari Wangi-Wangi mencatat bahwa sekarang tindakan medis dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, sementara rangkaian adatnya tetap dipertahankan.

Hal ini memperlihatkan bahwa menjaga budaya tidak selalu berarti mempertahankan setiap cara lama tanpa perubahan.

Unsur kesehatan, kondisi keluarga, perkembangan ilmu pengetahuan, serta pandangan masyarakat dapat memengaruhi praktiknya.

Yang tetap dipertahankan adalah nilai sosial seperti nasihat, penghormatan kepada keluarga, pakaian adat, musyawarah, silaturahmi, dan perayaan bersama.

Pendekatan seperti ini membuat tradisi mempunyai kesempatan lebih besar untuk terus relevan.

Karia’a akhirnya tidak menjadi sesuatu yang “beku” dari masa lalu, tetapi warisan yang beradaptasi bersama generasi baru.

Mengenal upacara Karia’a di Wakatobi berarti melihat sebuah tradisi yang jauh lebih luas daripada pesta sunatan.

Di dalamnya terdapat proses bersuci, nasihat agama, pakaian adat, gotong royong, arak-arakan, serta pengakuan sosial terhadap anak yang memasuki fase kehidupan baru.

Bentuknya bisa berbeda antara Wangi-Wangi, Kaledupa, dan komunitas Wakatobi lainnya. Kekuatan Karia’a justru berada pada kemampuannya mempertemukan keluarga, adat, dan nilai keagamaan dalam satu momentum.

Jika berkunjung ke Wakatobi dan kebetulan menemukan prosesi Karia’a, nikmatilah dengan sikap menghormati masyarakat yang menjalankannya.

Dengarkan cerita dari tokoh adat atau pemandu lokal, jangan hanya mengejar foto arak-arakan. Dari sana kita bisa melihat Wakatobi bukan hanya sebagai surga bahari, tetapi juga rumah bagi warisan budaya yang masih hidup.

FAQ

1. Apa itu upacara Karia’a?

Karia’a merupakan tradisi adat Wakatobi yang berkaitan dengan khitan dan pendewasaan anak. Rangkaian acaranya juga memuat unsur pendidikan agama, nasihat, pakaian adat, gotong royong, dan perayaan bersama.

2. Apakah Karia’a hanya untuk anak laki-laki?

Tidak selalu. Bentuk tradisi berbeda menurut komunitas. Dokumentasi dari Wangi-Wangi mencatat peserta laki-laki dan perempuan, sedangkan deskripsi Karia’a di Kaledupa lebih banyak menekankan ritual pendewasaan anak laki-laki.

3. Apa itu kansoda’a dalam Karia’a?

Kansoda’a atau konsoda’a merupakan tandu yang digunakan untuk mengusung peserta perempuan dalam beberapa bentuk Karia’a di Wangi-Wangi. Tandu tersebut dibawa mengelilingi kampung sebagai bagian dari arak-arakan.

4. Apa nilai utama dalam tradisi Karia’a?

Nilai yang banyak ditemukan adalah pendidikan agama, penghormatan kepada orang tua, akhlak, gotong royong, silaturahmi, kebersihan atau bersuci, serta tanggung jawab sosial.

5. Apakah Karia’a masih dilaksanakan sekarang?

Ya. Kajian yang terbit pada 2024 dan dokumentasi beberapa tahun terakhir menunjukkan Karia’a masih dijalankan di sejumlah komunitas Wakatobi, meskipun beberapa bagian prosesi mengalami penyesuaian dengan kehidupan modern.