Soami, Makanan Berbahan Singkong dari Wakatobi yang Wajib Dicoba

Wakatobi memang terkenal dengan laut biru dan terumbu karangnya, tetapi perjalanan ke kepulauan ini rasanya kurang lengkap kalau belum mencicipi makanan yang sudah lama hadir di meja masyarakat lokal.

Salah satu yang paling menarik adalah soami, makanan berbahan singkong dari Wakatobi.

Bentuknya sederhana, sering menyerupai kerucut kecil, dengan warna putih kekuningan dan tekstur khas singkong kukus. Soami biasa disantap sebagai sumber karbohidrat pengganti nasi, kemudian dipadukan dengan ikan, seafood, atau lauk lokal lainnya.

Di Desa Liya Togo, misalnya, Indonesia Travel mencatat kasoami-penyebutan yang juga banyak digunakan untuk makanan ini-disajikan bersama ikan asap dalam sajian tradisional masyarakat.

Di balik tampilannya yang sederhana, soami menyimpan cerita mengenai cara masyarakat kepulauan beradaptasi dengan lingkungan.

Singkong yang relatif sesuai dengan kondisi daratan Wakatobi diolah menjadi makanan mengenyangkan dan kini juga menjadi identitas kuliner serta produk wisata.

Penelitian terbaru di Liya Togo bahkan mencatat keterlibatan kelompok perempuan dan pemuda dalam pengolahan singkong menjadi kasoami.

Apa Itu Soami dari Wakatobi?

Soami adalah makanan tradisional berbahan utama singkong atau ubi kayu yang diolah menjadi sumber karbohidrat. Dalam berbagai publikasi, namanya juga ditulis sebagai kasoami atau kasuami.

Penyebutan dapat berbeda menurut daerah dan kebiasaan masyarakat, tetapi semuanya mengacu pada keluarga olahan singkong kukus yang sangat dikenal di Sulawesi Tenggara.

Mongabay mencatat kasoami telah lama dikenal di wilayah yang secara historis berkaitan dengan Kesultanan Buton, termasuk Wakatobi, Buton, Baubau, dan daerah sekitarnya. Makanan ini juga tetap dibuat oleh keluarga keturunan Buton yang tinggal jauh dari kampung halaman.

Di Wakatobi sendiri, posisi soami lebih menarik karena tidak sekadar menjadi camilan. Ia dapat menggantikan nasi dalam sebuah hidangan lengkap.

Ketika disajikan bersama ikan atau hasil laut, komposisinya terasa sangat masuk akal untuk wilayah kepulauan: singkong berasal dari daratan, sementara lauk datang dari laut.

Mengapa Singkong Menjadi Penting bagi Masyarakat Wakatobi?

Untuk memahami soami, kita perlu melihat kondisi lingkungan Wakatobi.

Daratan di kepulauan ini tidak selalu ideal untuk pertanian padi seperti daerah persawahan di Jawa atau Sulawesi daratan. Sebaliknya, tanaman pangan lokal seperti umbi-umbian memiliki kemampuan beradaptasi lebih baik terhadap kondisi tanah setempat.

Yayasan Konservasi Alam Nusantara pada 2026 menyoroti ubi-ubian sebagai pangan lokal yang memiliki keunggulan ekologis dalam kondisi Wakatobi.

Karena itulah, singkong bukan sekadar bahan murah yang dijadikan alternatif.

Ia merupakan bagian dari strategi pangan masyarakat kepulauan. Dari tanaman yang relatif sederhana, warga menghasilkan makanan yang mengenyangkan dan dapat dipadukan dengan sumber protein laut.

Mongabay juga mencatat bahwa kasoami dahulu banyak menjadi makanan masyarakat nelayan dan petani. Bagi nelayan, makanan berbasis singkong ini bahkan berkaitan dengan bekal ketika melaut.

Konteks seperti inilah yang membuat soami lebih menarik daripada sekadar resep tradisonal.

Ia lahir dari hubungan antara manusia, ketersediaan bahan, dan karakter lingkungan tempat masyarakat hidup.

Bagaimana Soami Dibuat?

Proses pembuatan soami terlihat sederhana, tetapi membutuhkan beberapa tahap sebelum singkong siap masuk ke kukusan.

Singkong terlebih dahulu dikupas dan dibersihkan. Setelah itu, umbi diparut atau digiling hingga menghasilkan massa singkong yang lebih halus. Kandungan airnya kemudian dikurangi melalui proses pemerasan atau penindisan.

Dokumentasi budaya Indonesia mengenai kasoami juga mencatat tahapan pemilihan singkong, pemarutan, dan pemerasan sebagai bagian dasar pengolahannya.

Hasil singkong yang kadar airnya sudah berkurang biasanya dihancurkan kembali agar teksturnya tidak menggumpal.

Bahan tersebut kemudian ditempatkan dalam wadah atau cetakan dan dikukus hingga matang. Bentuk kerucut menjadi salah satu tampilan yang paling mudah dikenali dari kasoami klasik.

Mongabay mencatat adanya variasi bentuk dan warna, mulai dari tipe putih kekuningan berbentuk kerucut hingga beberapa jenis lainnya.

Mengapa Singkong Harus Diperas?

Pemerasan membantu membentuk tekstur bahan sebelum dikukus sekaligus mengurangi kandungan cairannya.

Tahapan ini penting karena hasil akhirnya bukan singkong rebus yang basah, melainkan makanan dengan tekstur padat tetapi tetap mudah dipisahkan ketika disantap.

Di sinilah keterampilan pembuat ikut menentukan hasil. Takaran air, kondisi singkong, proses penindisan, serta lama pengukusan dapat memengaruhi tekstur akhirnya.

Jadi, walaupun bahan utamanya hanya singkong, pengolahanya tetap membutuhkan pengalaman.

Seperti Apa Rasa dan Tekstur Soami?

Jangan berharap rasa soami sangat kuat ketika dimakan tanpa lauk.

Karakter dasarnya relatif ringan dengan rasa khas singkong. Justru sifat inilah yang membuatnya mudah dipadukan dengan makanan yang lebih gurih, pedas, asin, atau berkuah.

Teksturnya berbeda dari nasi. Soami cenderung lebih padat, sedikit berbutir, dan terasa mengenyangkan. Ketika masih hangat, aroma singkong kukus juga lebih terasa.

Bagi orang yang baru pertama mencobanya, pengalaman pertama mungkin terasa asing. Namun setelah dipadukan dengan ikan, sambal, atau kuah, fungsi soami sebagai pengganti nasi langsung terasa.

Itulah mengapa menyantap soami sendirian sebenarnya kurang memberi gambaran lengkap.

Soami paling menarik ketika hadir sebagai bagian dari satu paket hidangan Wakatobi.

Soami Paling Enak Dimakan dengan Apa?

Wakatobi dikelilingi laut, jadi pasangan paling alami untuk soami tentu saja ikan dan seafood.

Indonesia Travel secara khusus mencatat kasoami di Liya Togo dimakan bersama ikan asap. Dalam sajian lokal desa tersebut juga dikenal Salamu berbahan ikan pari dan Kaindolu atau sate kerang.

Kombinasi ikan asap dan soami menarik karena keduanya mempunyai karakter yang kontras.

Rasa singkong yang ringan menyerap sensasi gurih dan aroma asap dari ikan. Tambahan sambal atau kuah membuat teksturnya semakin mudah dinikmati.

Di bagian lain Wakatobi, variasi pasangan lauk tentu bisa berbeda. CNN Indonesia pernah menggambarkan kuatnya hubungan antara olahan singkong seperti soami dan berbagai hasil seafood dalam kuliner Wakatobi.

Jadi tidak ada aturan bahwa soami hanya boleh dimakan dengan satu jenis lauk.

Prinsipnya mirip nasi: makanan pokoknya sederhana, sedangkan karakter utama hidangan datang dari lauk yang menemaninya.

Ada Beberapa Jenis Soami yang Bisa Dikenal

Soami ternyata tidak hadir dalam satu bentuk saja.

Mongabay mencatat setidaknya beberapa variasi kasoami, termasuk bentuk kerucut putih kekuningan, jenis berwarna lebih gelap yang dikenal sebagai huguhugu, serta bentuk padat yang disebut kasoami pepe.

Di Wakatobi, soami pepe masih dapat ditemukan dan mempunyai penggemarnya sendiri.

Telisik pada Januari 2025 mendokumentasikan soami pepe sebagai makanan khas Wakatobi yang menggunakan singkong muda.

Prosesnya dinilai lebih panjang dibanding soami biasa, dengan karakter hasil akhir yang lebih kenyal. Produk ini juga disebut masih dapat dijumpai di pasar-pasar Wanci.

Keragaman tersebut menunjukkan betapa fleksibelnya satu bahan pangan.

Singkong yang sama dapat menghasilkan tekstur, bentuk, dan pengalaman makan berbeda tergantung teknik pembuatannya.

Bagi wisatawan yang suka eksplorasi makanan, membandingkan soami biasa dengan soami pepe bisa menjadi pengalaman kuliner yang cukup seru.

Soami dalam Kehidupan Masyarakat Liya Togo

Liya Togo menjadi salah satu tempat menarik untuk melihat hubungan antara soami dan kehidupan desa secara langsung.

Indonesia Travel menyebut proses pembuatan kasoami dapat dilihat di sejumlah rumah sepanjang jalan di Desa Liya Togo. Hidangan tersebut juga disebut sebagai bagian dari sajian khas dalam konteks acara adat bersama ikan asap, Salamu, dan Kaindolu.

Keterkaitan itu masih ditemukan dalam penelitian yang lebih baru.

Studi mengenai pengembangan agrowisata pesisir Liya Togo yang terbit pada 2025 mencatat kelompok perempuan dan pemuda aktif mengolah singkong menjadi kasoami.

Kegiatan tersebut ditempatkan bersama aktivitas ekonomi lokal lainnya seperti budidaya rumput laut, bawang merah, dan pengolahan minuman herbal.

Artinya, soami bukan hanya peninggalan resep masa lalu.

Makanan ini masih mempunyai hubungan dengan produksi pangan, aktivitas rumah tangga, pariwisata, dan peluang ekonomi masyarkat desa.

Dari Makanan Pokok Menjadi Produk Wisata

Perubahan pola konsumsi menjadi salah satu tantangan makanan tradisional.

Penelitian Wardana dan Muzuna yang diterbitkan pada 2020 mencatat bahwa kasoami Wakatobi harus bersaing dengan makanan lain seperti nasi.

Studi tersebut menilai peningkatan kualitas, daya simpan, kemasan, pemasaran digital, serta kerja sama dengan distributor dan agen wisata sebagai beberapa strategi yang dapat membantu usaha pengrajin kasoami berkembang.

Ini menunjukkan bahwa masa depan soami tidak harus terjebak antara “tradisional” atau “modern”.

Makanan ini bisa tetap mempertahankan resep dan identitas lokal sambil mendapatkan kemasan serta penyajian yang lebih sesuai untuk wisatawan.

Pariwisata Wakatobi bahkan menjadi pasar yang cukup alami.

Bayangkan wisatawan selesai snorkeling atau berjalan mengelilingi Benteng Liya, kemudian menikmati soami hangat bersama ikan asap buatan warga. Pengalaman tersebut jauh lebih berkesan dibanding jika makanan lokal hanya dijual sebagai produk tanpa cerita.

Soami akhirnya bukan cuma soal kenyang. Penyajianya bisa menjadi cara sederhana memperkenalkan Wakatobi melalui rasa.

Mengapa Soami Layak Dipertahankan?

Di tengah semakin praktisnya makanan modern, mempertahankan soami mempunyai nilai yang lebih luas daripada nostalgia.

Pangan berbasis singkong memberikan keragaman sumber karbohidrat sehingga masyarakat tidak hanya mengenal beras sebagai makanan pokok.

YKAN juga menyoroti relevansi pangan lokal seperti ubi-ubian dalam konteks adaptasi terhadap kondisi lingkungan Wakatobi.

Ada nilai budaya yang ikut dipertahankan.

Ketika resep diwariskan, sebenarnya yang diteruskan bukan hanya cara mengukus singkong. Pengetahuan mengenai pemilihan bahan, pengolahan, pasangan lauk, dan kebiasaan makan keluarga ikut berpindah ke generasi berikutnya.

Peluang ekonominya pun nyata.

Penelitian pemasaran kasoami menunjukkan bahwa inovasi kualitas, kemasan, promosi daring, dan keterhubungan dengan industri pariwisata dapat menjadi strategi pengembangan produk.

Dengan begitu, mempertahankan soami tidak berarti menjadikannya benda museum. Justru makanan ini perlu terus dibuat, dimakan, dijual, dan diperkenalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Soami, makanan berbahan singkong dari Wakatobi, adalah contoh sederhana tentang bagaimana masyarakat kepulauan mengubah bahan lokal menjadi pangan yang mempunyai nilai budaya tinggi.

Singkong diparut, dikurangi kadar airnya, kemudian dikukus hingga menghasilkan makanan bertekstur khas yang dapat menggantikan nasi.

Soami semakin nikmat ketika disantap bersama ikan asap, seafood, sambal, atau lauk tradisional lainnya. Di Liya Togo, makanan ini bahkan masih terhubung dengan kehidupan masyarakat dan pengembangan agrowisata.

Kalau suatu hari berkunjung ke Wakatobi, jangan hanya mencari restoran dengan menu yang familiar. Cobalah mencari soami buatan warga, nikmati bersama lauk ikan lokal, dan tanyakan bagaimana makanan tersebut dibuat.

Dari seporsi singkong kukus sederhana, kita bisa mengenal cerita Wakatobi dengan cara yang jauh lebih dekat.

FAQ

1. Apa itu soami?

Soami adalah makanan tradisional berbahan singkong yang populer di Wakatobi dan wilayah Sulawesi Tenggara lainnya. Makanan ini umumnya berfungsi sebagai sumber karbohidrat atau pengganti nasi.

2. Apakah soami dan kasoami sama?

Istilah soami, kasoami, dan kasuami sering digunakan untuk olahan singkong dalam tradisi kuliner Sulawesi Tenggara, dengan variasi penyebutan menurut daerah dan sumber. Di publikasi tentang Wakatobi, istilah soami maupun kasoami sama-sama banyak ditemukan.

3. Bagaimana cara membuat soami?

Singkong dikupas, dibersihkan, diparut atau digiling, kemudian diperas untuk mengurangi air. Bahan yang telah dipersiapkan selanjutnya dikukus hingga matang dan membentuk tekstur padat khas soami.

4. Soami biasanya dimakan dengan apa?

Salah satu pasangan yang populer adalah ikan. Di Desa Liya Togo, Indonesia Travel mencatat kasoami disajikan bersama ikan asap dan dapat ditemukan bersama kuliner hasil laut lainnya.

5. Di mana bisa mencoba soami di Wakatobi?

Soami dapat ditemukan di berbagai wilayah Wakatobi. Wanci merupakan salah satu tempat yang memiliki pengrajin kasoami, sedangkan Liya Togo menawarkan konteks menarik karena proses pembuatannya juga diperkenalkan sebagai bagian dari kehidupan dan wisata desa.